febriansyah's posts with tag: teater indonesia

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag teater indonesia
Blog EntryTETAP GUNAKAN SERAGAM INDONESIAMar 8, '08 12:35 AM
for everyone
Walaupun tampil di ribuan penonton dari berbagai neagra di dunia. Kelompok Teater Tanah Air tetep menggunakan kostum dengan budaya Indonesia. Para pemain mereka yang kebanyakan masih SD dan SMP tetap menggunakan seraga SD KHAS Indonesia merah putih dalam penampilannya di luar negeri. Dalam acara pentas teater dunia di Jerman. Dan itu tidak sia-sia, karena justru mendapatkan sambutan yang sangat antusias dari para pemain teater di luar negerid an berbagai bangsa itu. Tepuk tangan bergemuruh saat mereka pentas maupun setelah usai pentas.
Dan itu menunjukkan kalau cerita tentang Indonesia, budaya tentang Indonesia itu sangat diminati oleh semua orang di dunia,s angat di senangi oleh orang belahan dunia manapun.


Blog EntryProfile : Jose Rizal ManuaMar 8, '08 12:33 AM
for everyone
##Tulisan Gue yang Kembali Diterbitkan Oleh Harian Warta Kota Jakarta

Lahir di Padang, 15 September 1954. Jose Rizal Manua, memulai dunia peran dan drama dikelurahan untuk pementasan 17 agustus-an, ketika itu beliau bermukim di kalibata. Mungkin hanya sedikit orang atau juga samar-samar yang tahu siapa sih Jose Rizal Manua, atau yang akrab disapa Mas Jose (baca Yos), ini. Untuk orang-orang pecinta teater, mungkin tak asing lagi. Karena beliau salah satu dedengkot dunia teater Indonesia.
Tahun 70-an Mas Jose bergabung bersama W.S Rendra, Putu Wijaya, dan Teguh Karya, kerja tim bagian teater dan itu membuatnya semakin semangat dibidang seni.
Hingga akhirnya tahun 1981 Mas Jose, menikah dengan Bu Nunum. Bisik-bisik dari sang istri, dulu mertua Mas Jose takut loh kalau Bu Nunum berhubungan dengan Mas Jose. Karena dengan alasan seni itu enggak ada masa depannya. Apalagi rambut Mas Jose yang panjangnya mencapai sepinggang.
Tahun 1988, Mas Jose berangkat ke New York, bersama W.S Rendra dan teman-teman lainnya. Mereka mengikuti The first New York Festival. Baru sepulangnya dari New York. Beliau mendirikan Teater Tanah Air. Tapi kenapa diberikan nama itu? “Suka aja, nama itu mengingatkan kita kecintaan pada Indonesia”kata Mas Jose, yang berambut panjang sepinggang.
Di kelompok teater yang semuanya ia hidupi sendiri ini. Mas Jose, membawa teater ringan yang dicintai oleh anak-anak. Anggotanya juga terdiri dari siswa SD, SMP dan dewasa juga ada. “Hakikatnya ini didirikan untuk menampung minat, banyak manfaat didalam teater”kata Mas Jose, yang sangat ingin teater itu masuk menjadi pelajaran dalam kurikullum.
Tiga puluh enam tahun bersama anak-anak membangun Teater Tanah Air. Pembaca puisi humor ini dianggap sebagai penerus Alm. Deliana Surawijaya, sang pelopor teater anak-anak di Indonesia.
Walaupun mendirikan teater ini sendiri dan atas biaya sendiri. Tapi, justru teater ini banyak peminatnya. Sampai sekarang telah beranggotakan lebih dari 100 anak-anak dan remaja aktif. Prestasi teater pimpinannya ini juga sangat gemilang dikancah internasional. Memulai debut sebagai pendatang baru Organisasi Teater Amatir Internsional AITA / IATA. Dan bahkan mendapat kesempatan tampil di “9th World Festival of Children’s Theatre” pada 14-22 Juli 2006 di Jerman. Teater pimpinan Mas Jose ini mendapatkan 19 medali emas. Sebelumnya di tahun 2004 di “The Asia – Pasific of Children’s Theatre 2004” di Jepang, teater ini juga mendapatkan 10 medali emas. Dan sangat menarik, Mas Jose, harus mau nombok 20juta lebih untuk keberangkatan, kontingen ke Jepang. “Waktu itu kita sudah menyerahkan 70 proposal untuk sponsor, tapi semuanya ditolak. Dengan alasan tak ada dananya”ungkap Bu Nunum, sang istri tercinta. Berangkat dengan biaya seadanya, tanpa bantuan dari pemerintah. Tak membuat kendur semangat Mas Jose. cara mengajarnya yang mengambil metode secara alam beliau membiarkan anak didiknya berimajiansi sendiri pada peran mereka, justru itulah membawanya mendapat penghargaan di Jepang dan Jerman. Mas Jose mendapatkan medali emas sebagai sutradara terbaik. “Malahan teater Indonesia waktu ke Jepang itu, enggak dipandang oleh Negara-negara lain, tapi ketika naik pentas, semua mata orang menuju kekita”kenang Bu Nunum, yang selalu setia mendampingi ketika Mas Jose melatih anak-anak. “Bahkan kita yang engak punya apa-apa justru sesudah tampil, malah diundang oleh Negara-negara peserta waktu itu, untuk tampil dinegara mereka”cerita Mas Jose, sedikit terharu. Setelah mendapat itu semua Mas Jose tak langsung berpuas diri dan lekas sombong. Mas Jose sangat senang “Tapi kita harus selalu mawas diri, karena kita enggak selalu mampu jadi yang terbaik”ucap Mas Jose yang sedang mempersiapkan teater untuk pertunjukan Festival Teater Anak-anak se-Dunia di Moskow, Rusia tahun 2008 nanti.
Didalam keluarga. Mas Jose, juga dikenal sebagai orang yang pengertian, sabar, begitu pengakuan sang istri. Niken sang putri terkecil juga merasa bangga mempunyai papa seorang Mas Jose, bahkan ia mengatakan kalau idola teater-nya, yaahh…papanya. Kelima anaknya juga, bergelut dibidang seni. Bukan atas paksaan Mas Jose, tapi justru karena kejahilan mereka sendiri yang sering mengganggu Mas Jose mengajar, yang justru anaknya malah keterusan dan menikmati dunia seni peran ini.
Jose Rizal, juga tak hanya piawai sebagai sutradara teater atau sebagai pelakon teater. Jose Rizal yang dikenal sebagai dramawan yang banyak menyumbangkan buku-bukunya ke daerah-daerah terpencil, juga sangat menyukai seni sastra. Pada tahun 1980-1986 Jose Rizal menjadi raja didunia sastra puisi. “Dulu, sampai saya enggak boleh ikut lagi tiap ada lomba baca puisi, bukan oleh penyelenggaranya saja tapi juga oleh jurinya. Karena saya sudah pasti menang. Yaudah! Dulu saya bilang, kalau saya enggak boleh ikut saya harus jadi jurinya”cerita Mas Jose dengan semangat.
Suka duka didunia teater sudah banyak dialami oleh Mas Jose. “Dukanya itu karena kita belum bisa hidup dari teater”keluh Mas Jose. “Kalau untuk penonton sepi, yaaahh…itu sangat umum, karena Negara berkembang emang begitu”tambah Mas Jose lagi.
Mas Jose, juga masih mempunyai obsesi dan cita-cita yang belum tercapai sampai saat ini. Obsesi-nya adalah untuk memiliki perpustakaan berjalan, sampai sekarang juga belum terwujud dan cita-citanya bagaimana agar teater itu bisa menjadi pelajaran, bisa masuk kurikulum, jangan cuma jadi ekskul, juga belum terwujud, karena pak Menteri hanya iya saja. “Saya sih didalam, seminar pembicaraan atau undangan-undangan sudah sangat sering ngomong. Bahkan dengan menteri juga sudah ngomong. Bagaimana teater itu bisa menjadi kurikulum pelajaran, karena manfaatnya sangat banyak. Yaahh…tapi itulah mereka cuma iya…iya saja” keluh Mas Jose, lagi.
Karena menurut Mas Jose, seharusnya teater itu sudah diajarkan sejak TK karena manfaatnya banyak. Biar anak-anak itu berani mengungkapkan pendapat, mengajak gurunya debat, anak-anak jadi berani mengritik tapi tetap dalam santun, Imajinasi mereka juga terlatih, mereka bisa tambah PD (percaya diri). “Karena ada anak yang didepan kelas untuk memandang gurunya saja enggak berani”kata Mas Jose, yang selalu menaruh buku ditempat tidur anaknya, agar pagi-pagi ketika mereka bangun mereka bisa langsung membaca buku dahulu.
Oke deh…Mas Jose, semoga saja Pak Menteri, langsung cepat melaksanakan dan enggak cuma bilang iya. Semoga juga, Moskow tahun depan, pemerintah dan sponsor sudah mau mengulurkan tangan mereka.


Blog EntryTEATER INDONESIA KACAMATA JOSE RIZAL MANUAMar 8, '08 12:15 AM
for everyone
 

Pas pertama kali masuk Fakultas Film- IKJ (Institut Kesenian Jakarta), gue jalan-jalan ke Bengkel Buku Mas Jose (Jose Rizal Manua, tokoh teater-puisi Indonesia, pemilik Teater Tanah Air). Kebetulan ada Mas Jose-nya yang emang lumayan akarab dengan gue. Gue bentar ngobrol-ngobrol tentang teater dan kondisi teater di Indonesia belakangan ini, apalagi setelah kemenangan Teater Tanah Air, di Jerman dan Jepang dalam pentas teater anak-anak dunia. Mas Jose, sama seperti dulu waktu gue temui pas masih SMA, Mas Jose masih mengeluh dengan perhatian pemerintah yang sangat kurang. Bahkan ketika mau berangkat ke Jerman aja, mereka sama sekali enggak dapet bantuan dana. Tapi setelah menang para orang-orang itu malah pengen numpan beken.

Mas Jose bercetita panjang lebar, sampai gue merasa. Waaaww….ternyata enggak dunia film aja yang selama ini gue geluti yang bermasalah, tapi juga banyak seni yang laen. Setelah kakak gue yang koreografer juga mengeluh, ini datang lagi sebuah keluhan dari seorang tokoh teater nasional tentang kondisi teater tanah air.

Mungkin kalian banyak yang gak tahu siap sih!Jose Rizal Manua?

Liat di tulisan selanjutnya yaaahhh…………..




 

##Tulisan gue yang di terbitkan oleh Harian Warta Kota Jakarta:


Teater bukan barang yang baru di Negara kita. Kelompok-kelompok teater besar juga bermunculan di tanah air ini, misalnya Teater Koma ataupun Teater Tanah Air. Sayangnya, teater-teater di Indonesia masih menampilkan pertunjukan yang selalu saja menguras pikiran. Terkesan serius, bahkan untuk mengetahui pesan dalam ceritanya harus memutar-mutar otak kita dulu, karena pesan yang ingin mereka sampaikan tersimpan secara tersirat. Tapi teater itu sendiri apa sih? Menurut Mas Jose Rizal Manua, teater itu tempat pertunjukan, tapi semakin menuruti perkembangan, teater itu adalah pertunjukan teater itu sendiri.

Di Indonesia sebuah pertunjukan teater akan sulit untuk dijual. Walaupun persiapan produksi untuk melakukan satu pertunjukan mereka tak jauh berbeda dengan mempersiapkan sebuah film. Karena harus menulis skenarionya dulu, pendalaman karakter yang kadang juga harus observasi, dan kedua ini tak cukup dilakukan hanya dalam waktu beberapa hari ataupun beberapa bulan saja. Seperti yang dilakukan Totos, Director and Script Teater SMA Tarakanita 1 bejudul “Naga Bonar”. Lulusan IKJ tahun 1991 ini, untuk pementasan Naga Bonar, memerlukan waktu cukup lama, sekitar 6 bulan.

Bahkan ketika TaMu secara tak sengaja bertemu seorang Kakek, yang sudah menggeluti dunia teater sejak ia lulus SMP. Pernah menggarap sebuah pertunjukan sampai 2 tahun dan setelah dua tahun itu, cerita yang ia dan teman-temannya garap tak jadi dipentaskan karena ada beberapa hal yang tak bisa diteruskan lagi, juga karena iklim yang sudah enggak proporsional lagi dengan cerita.

Dan menurut Totos, kenapa kebanyakan orang malas menonton teater, adalah karena orang cepat bosan, kadang tak terhibur, dan teater-teater banyak membuat orang terlalu berpikir.

Pendapat berbeda diungkapkan oleh Kakek yang telah bergelut di teater sejak tahun 1976, ini berpendapat. Kalau teater itu tergolong penggarapan mereka, mau diarahkan kemana teater ini, ke komersil atau hanya sebatas hiburan saja.

“Jadi, tergolong ceritanya juga, apakah menguntungkan kedua belah pihak atau enggak, bagi keduanya. Jika menguntungkan pasti penonton dan sponsor akan datang dengan sendirinya”ucap sang kakek, yang sudah menyutradarai teater lebih dari 26 pertunjukan teater.

Begitu juga yang disampaikan oleh Jose Rizal Manua. Beliau menyangkal kalau teater berat “Enggak juga, orang India, Uganda, Zimbabwe semuanya pada ngerti”kilah pendiri Teater Tanah Air, ini. “Teater itukan sebuah perenungan, jadi wajar jika di negara-negara berkembang orang cepat bosan, karena orang –orang dinegara berkembang males merenung”tambah beliau lagi.

Bahkan Seorang pelakon teater yang namanya tak mau disebut, mengatakan bahwa sebenarnya ada tiga pilar budaya yang harus dikuasai oleh pelaku seni. Pertama, logis, semuanya itu bisa didapat jika kita berpikiran logis, yang baik dan benar kita ambil yang buruk buang jauh-jauh. Kedua, Etika, ini tujuan perangkap seorang seniman. Ketiga, Estetika. Dengan ketiganya inilah seni akan kita pahami.

Jumlah peminatnya masih sedikit. Tapi, uniknya justru semakin banyak sekolah-sekolah yang mengadakan eskul teater. Anak-anak muda-pun juga mulai berangsung-angsur mencintai teater.

Walaupun teater sampai sekarang belum ada perhatian berarti dari pemerintah dan juga para sponsor. Orang-orang pecinta teater tetap dengan bangga dan serius menghidupi teater. Begitu juga dengan Teater Tanah Air dulu, yang ketika berangkat ke Jepang, 70 proposal yang diajukan pada sponsor semuanya ditolak semuanya beralasan tak punya dana. Bahkan kemenangan yang mereka bawa pulang ditanggapi dengan dingin. Teater Tanah Air, juga bisa memperlihatkan kalau teater itu bisa dinikmati oleh berbagai kalangan. Terlihat juga seperti Teater Tarakanita 1 pada pertunjukan Naga Bonar, beberapa waktu lalu yang begitu menghibur penonton. Menakjubkan, yang datang semuanya anak-anak muda. Walaupun kebanyakan menonton karena penasaran, dan ingin tahu saja.



 

##Tulisan gue yang Diterbitkan Harian Warta Kota- Jakarta


Seperti Teater Tanah Air pimpinan Jose Rizal Manua. Teater ini, bahkan memiliki anggota yang masih SD. Walaupun masih anak-anak dan remaja tapi tak sulit melatih mereka. Prestasi teater yang didirikannya 11 september 1988 ini, juga tak main-main. Tingkat internasional sudah mereka kuasai, loh. Perjuangan persiapan mereka selama 7 bulan sebelum pementasan tak berakhir dengan sia-sia. Pada tahun 2004 Festival Anak Asia Pasifik di Jepang, Teater Tanah Air, mendapat 10 medali emas. Begitu juga tahun 2006 yang lalu di Jerman. 19 medali emas yang diperebutkan semuanya diambil oleh Teater Tanah Air. Dan pemeran mereka saat itu adalah masih siswa-siswi yang duduk di bangku SD dan SMP. Waauu…luar biasa bukan? Ketika TaMu, diperlihatkan rekaman pementasan di Jerman. Para pemainnya yang rata-rata SD dan SMP, terlihat sangat rileks, tak ada rasa gugup dari mereka, padahal dari mereka ada yang baru pertama kali tampil di luar negeri. Seperti Niken, siswi SD Trisula Perwari 1, Salemba. Sebelum tampil dia sudah mengatakan dalam hatinya kalau dia harus rileks dan harus tampil yang paling bagus, makanya dia bisa bermain dengan enjoy. Komentar dari orang-orang India, Zimbabwe dan Negara lainnya rata-rata sama. Mereka mengatakan Amazing…Amazing, is best production, wonderful, perform Indonesia very-very good.

Cerita teater yang diangkat kedalam pentas pertunjukan juga, tak jauh dari kisah yang ada disekeliling kita. “Apa aja, tentang hidup dan kehidupan juga bisa”Kata Jose Rizal Manua, atau yang akrab disapa Mas Jose (baca Yos). Itu juga tak berbeda jauh yang diceritakan oleh Sang Kakek yang banyak mengangkat kisah-kisah pemberdayaan manusia. Kepuasan yang didapatkan juga sangat luar biasa. Seperti apresiasi penonton pada pertunjukan. Dan bagi Kakek, jika orang yang menonton mendapat sedikit pemikiran apa yang disampaikan oleh pertunjukan teater, itu bisa jadi salah satu kepuasan tersendiri.



© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help