febriansyah's posts with tag: sejarah film

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag sejarah film
Blog EntryPOLING SUTRADARA TER TAMPAN....May 11, '08 10:13 AM
for everyone
setelah gw mendatangi festival film....di daerah kesenian jakarta gw jadi ingin memngadakan poling...siapa sutradara tertampan saat ini...di indonesia


ayo pilih sesuai nurani mu.....

1. Riri Riza (P.Sherina,Laskar Pelangi, GIE)
2.Hanung Bramntyo (Ayat2 Cinta, Brownies,Catatan Akhir sekolah)
3.Hanny R.sYAPUTRA (Love is Cinta, Heart)
4.Koya Pagayo alias pingkan utari alias nayato fio nuala (Kereta hantu manggarai, ciuman pertama)
5.Joko Anwar (Janji joni, KALA, Fiksi)
6.Febriansyah Marcel (The Power of money, Jakarta Jual Nyawa, Kata Maaf Sayang)
7.Teddy S (Badai Pasti Berlalu, Namaku Dick,)
8.Garin Nugroho (Opera Jawa, Under Tree)
9.Edwin (Kara Sebatang Kara, Babi Buta ingin terbang)



ayo pilih...dan tetapkan dia sebagai sutradara tertampan tahun ini......

pilih yang tulisannya paling gede yaahh.....hahahhaaa.....
 


........

seperti halnya politik....di negeri yg kata banyak orang negeri yg kaya dan makmur....filmmaker juga sering banget gontok-gontokan....
..saling tusuk, saling iri, saling dengki....

bahkan yang menjatuhkan karir seorang filmmaker adalah "bacot orang" selain karyanya sendiri yang buruk...

makanya....buat yang mau jadi filmmaker,,,mending pikir ulang deh...
aplaagi jadi pembuat film itu banyak maslahnya.:
1. sekolah film mahalnya selangit....
2.pelajarannya susah...banget...dan kata siapa gak ada itung-itungannya...ternyata lumayan banyak....
3.pelajarannya agak ngebetein , terutama sejarah film dunia dan sejarah film indonesia,,tapi setelah tersadar ternyata itus emua penting banget.
4.belum tentu setelah lulus elo jadi sutrdara,produser,atau apapun mayor elu ..


BUKANNYA GW MAU NAKUT-NAKUTIN....BO......DAN BUKAN BERARTI GW MALAH GAK NGASIH KALIAN SUPPORT...tapi emang begitu adanya.....!!! muka filmmaker itu kebanyakan bermuka dua (gw enggak loh...HAHAHHAHA...)

gw cuma ngingetin aja...daripada entar udah kepalang masuk dan nyesel...
mending gw kasih pilihan berdasarkan saran dosen gw ....

kata dosen gw universitas yg bagus untuk di masuki selain masuk sekolah film adalah:
1.ABA
2.YAI
3.UBK


silahkan berjuang...elcome di perfilmman indonesia...ajang tusuk dari belakang....hahahahhaaa......(tapi gak semua loh)....

kalau gw sih udah sering ditusuk....

Blog Entryfilm komersil dan tidak itu harus ada....May 8, '08 6:38 AM
for everyone
ini kembali sok tahu gue aja neeehhh...karena kata, dosen saya yang "besar" sok tahu itu gapapa...di kampus..jadi mumpung multiply gue masyarakat ....nya masyarakat kampus juga,,jadi gue mau sok tahu lagi neehhh..
karena antara film komersil dan gak aja gw masih bingung.


sekian banyak orang banyak yang memaki-maki...menghina and many more,,,hujatan lainnya pada film komersil yang ada sekarang....
tapi, gw merasa film komersil alias film yang ada di 21 sekarang(gak semuanya komersil)...adalah film yang juga penting untuk menyeimbangkan perfilmman indonesia sekarang sebagai penyeimbang film yang di buat dengan konsep (something to say) sutradara.

karena kalau yang ada dan yang di buat hanya film-film yang di buat berdasarkan konsep dan maunya sutradara (something to say) sutradara. takutnya film indonesia akan kembali seperti di tahun2 sembilan puluhan,,,penontonn menjadi sepi dan film pun kehilangan penontonya dan perlahan-lahan hilang dari peredaran lagi....

jadi kalau film komersil sekarang ada biarkan....ada.

Blog Entrykita butuh kritikus film .!!!May 8, '08 6:13 AM
for everyone
gak tahu karena apa ini hanya "sok tahu" saya,,,,.....

kita (film indonesia) sangat membutuhkan seorang kritikus film...tapi bukan kritikus yang datang ke bioskop untuk mencari kesalahan.....!!!! tapi kritikus yang hidup berdampingan dengan filmmaker dan penontonya...


maaf ini hanya sok tahu tingkat tinggi.....

seperti hal  yang sering kita denger waktu kita keluar dari bioskop adalah, sebuah celotehan atau komentar dari para penonton  seperti ::
- Kok, filmnya kayak gitu sih...?
- Kok filmnya berat yah?
- Film apa sih?
- Ceritanya aneh...
- Sebenernya endingnya tadi apa yaah...?
- Emang tadi mereka ngapain ?
- Akting jelek, ...?
- Sutradanya neg, atau gambarnya kok gitu yah...?

mungkin masih banyak lagi percakapan ,celotehan, yang sering terdengar saat kita keluar menuruni tangga bisokop menuju pintu yang bertuliskan EXIT berwarna hijau, atau di saatn kita memasukkan "DICK" ke dalam kloset ataupun saat kita sedang membersihkan wajah karena ada jerawat yang nongol....

- gue secara pribadi udah snagat sering denger itu.....

tapi gue juga masih bingung dengan kenapa mereka suka ngomong kayak gitu? apa emang filmnya kayak gitu? atau karena mereka gak ngerti atau kenapa?

setelah berbulan-bulan gue mikirin...itu semua...gue mulai sedikit mendapatkan jawabannya...

1. Filmmaker, tidak bisa menyampaikan isi cerita film kepada penontonya.
2. Antara filmmaker indonesia dan penonton indonesia ada jarak dalam wawasan. atau cara berpikir. (karena seperti banyak kata seniman, "Indonesia, itu negara berkembang, jadi wajar kalau mereka suka males mikir")

Blog EntryMFI Bernapas Lega Anwar Fuady Tak TerimaMay 1, '08 7:48 AM
for everyone
Sidang gugatan MFI (Masyarakat Film Indonesia) akhirnya mendapatkan jalan terang, setelah mendengar ketukan palu dari hakim kemarin. Euforia teman-teman yang menyambut suka cita keputusan hakim, sayang tidak di terima dengan lapang dada oleh mereka “orang-orang tua” yang mulai terlupakan. Contoh paling mendasar adalah si “DUNGU” Anwar Fuady, maaf sekali kalo misalnya teman-teman ada yang tidak senang kalau si tua itu saya bilang si dungu. Karena kukira memang begitulah adanya. Anwar Fuady secara blak-blakan berbicara kalau orang-orang MFI adalah orang-orang tolol dan baru anak kemarin sore dalam hal membuat film ataupun tau tentang film. “Mereka itu tahu apa, baru beberapa tahun buat film, saja sudah seperti ini. Saya yang 35 tahun di film saja …….film yang bagus itu hanya Ayat-Ayat Cinta aja….yang lainya itu apa….Perempuan Punya Cerita itu apa…? Sampah itu, film apa Perempuan Punya Cerita itu” begitulah seingat gw bacotnya si Anwar. Sorry kalau ada yang sedikit di tambahin.
Riri Riza dengans antai menanggapinya. “Saya udah buat filmd ari tahun 98, dan berarti sudah sepuluh tahun, sudah ada lima film yang saya buat, terus dia udah buat apa aja?” dengan senyum sedikit menyindir dan penuh kemenangan Riri menaggapi bacotnya Anwar. Tak jauh beda dengan Mbak Mira, si doi yang kalo di wawancara wartawan pasti nyengir dulu, bikin mulutnya yang lebar ngeluarin giginya ini, juga nanggapin dengan santai.

FPI IKUT-IKUTAN
Yang enggak nyantai justru FPI. Hmmm…..massa ormas islam ini justru demo, dan mendesak pengen deketin anggota MFI yang sedang nyanyi-nyanyi pintu keluar. Nih ormas sama aja ketakutanya dengan Titi Said (Dedengkot LSF) dan Anwar Fuady(yang ngaku udah lama di dunia film?) padahal yang kayaknya bener itu di dunia sinetron…hahaahahaaa……
FPI takut akan terjadi kerusakan moral, seperti itu juga yang di takutkan oleh Titi Said ketua LSF. Padahal kalau emang mau ada usaha dikit dengan adanya lembaga klasifikasi justru ketakutan itu terjadinya akan lebih sedikit disbanding dengan adanya sensor. Contoh sederhana aja, film DO dan KAWIN KONTRAK di tonton oleh banyak anak SMP yang belum cukup umur untuk menonton itu semua, walaupun udha kena sensor. Coba kalau ada klasifikasi, anak SMP yang di bawah umur itu bisa di larang untuk masuk dan nonton film-film kayak gitu. Bahkan nonton film Perempuan Punya Cerita yang gue yakin pasti anaknya Anwar juga nonton anaknya Titi Said juga pada nonton anaknya ormas FPI itu juga ada yang nonton.


UNDANG-UNDANG NO 8 SIAP DI UBAH.

Keputusan hakim udah di terima. Jadi bersiap ajalah lembaga klasifikasi ini bakalan sebentar lagi berdiri, karena undang-undang no.8 yang menjadi kontroversi itu siap dirubah. Asalkan ga ada kendala lagi dari mereka orang-orang yang merasa moral adalah segalanya, yang belum tentu moral mereka itu lebih baikdari pembuat filmnya.




hasil wawancara gw yg di tebritkan Harian Warta Kota 6 April 2008


Selain menyampaikan harapan para filmmaker juga nitip pesan loh untuk kita-kita yang mau jadi filmmaker kayak mereka.


MIRA LESMANA (Produser Film 3 Hari Untuk Selamanya, Laskar Pelangi)
- Mulailah melek media dari sekolah menengah, karena kalian harus bisa mulai terdiidik untuk bisa menilai manda informasi yang baik dan tidak, malah kalau bisa nanti dari SD.
- Sekarang banyak buku utnuk belajar film, contoh buku JB Kristanto, “Nonton Film, Nonton Indoensia” itu bagus sekali dan ada yang baru “Belajar Film Kata 40 Pekerja Film”, jangan lupa juga belajar sejarahnya karena itu penting dan harus.

DJENAR MAESA AYU (Penulis dan Sutradara film “Mereka Bilang Saya Monyet)
- Berkaryalah dengan jujur dalam karya apapun tidak hanya film, kalau tidak kalian bisa jadi pedagang nantinya.

DEDDY MIZWAR (Sutradara dan Aktor Film)
- Berkaryalah sebaik-baiknya untuk bangsa ini, sesuai dengan keragaman Indonesia.

AGNI ARIATAMA (Dosen Sinematografi IKJ, Sinematografer)
- Belajar dan tumbuhlah sebebasnya karena jika nanti masuk industri kalian harus clear, karena jika sudah masuk industri kita sudah mulai bebricara hokum dan hak.
AGI (Composser Berbagi Suami)
- Bikinlah sesuatu yang original apapun filmnya, bikinlah musik sendiri jangan meniru orang lain apalaho ngambil punya orang.

ABDUH AZIZ (Produser Film Dokumenter)
- Teknologi sudah sangat memungkinkan kalian berbuat dan bisa mencari untuk film documenter, cari dan ada masalah yang ada di negeri ini karena semuanya tak akan pernah habis di bangsa ini.



hasil wawancara gw pribadi yang di terbitkan oleh,,,,Harian Warta Kota 6 April 2008. Redaksi TaMu.



Apalagi harapan mereka banyak banget ada yang berharap pendidikan film di perbaiki, bioskop di tambah, musik film di perbaiki lagi, dukungan untuk film documenter, dll.

ABDUH AZIZ (Produser Film Dokumenter)
- Dokumenter saat ini kegairahan sudah ada, tentunya dengan kemampuan teknis pembuatan film dan kemampuan jurnalistik untuk menggali dan menganalisa masalah yang masih harus di perbaiki. Terus semoga makin banyak pihak yang mau mendukung secara financial, karena ini salah satu masalah documenter sekarang.

AGI (Composser Berbagi Suami)
- Saya berharap filmmaker mereka membuat film dengan porsi yang benar tidak selalu memikirkan komersialitas dan menganggap kalau musik film itu penting dan bisa mensukseskan film itu sendiri.

AGNI ARIATAMA (Dosen Sinematografi film IKJ, Sinematografer film)
- Film bukanlah hanya milik KFT (Karyawan Film dan Televisi), organisasi film, komunitas, sekolah film atau pun pemerintah. Tapi film milik semua masyarakat film Indonesia, jadi perbaikilah diri sendiri dulu untuk memperbaiki kondisi film saat ini.

CAMELIA (Senat Film IKJ)
- Sudah saatnya sekarang bioskop di tata lagi, jangan sampe anak di bawah umur bisa menonton adegan film yang gak sepantasnya mereka lihat, paling gak system klasifikasi bisa jadi salah satu cara.

DAVID TARIGAN (Aksara Records, Produser Soundtrack Film)
- Berilah kesempatan lagi anak muda untuk berkarya, karena akan ada banyak sesuatu yang beda dari mereka yang di tawarkan.

JB KRISTANTO
- Standar Produksi harus di tingkatkan kembali, jangan sampai karena ingin menghemat budget jadi mengurangi kualitas. Dan semoga tumbuh lagi bioskop di tingkat kecamatan karena itu bisa merangsang penonton untuk menonton kembali.



DJENAR MAESA AYU (Sutradara dan Penulis “Mereka Bilang Saya Monyet”)
- Berharap investor lebih bijaksana lagi jangan sampai mereka mendesak lagi para pembuatnya untuk terus berkreasi.

LULU RATNA (Boemboe Forum)
- Semoga film pendek di puter di bioskop dan orang bayar….hahaha…(letawa ngakak)
- Semoga lebih banyak lagi sineas yang mau mengerti dan belajar sejarah film dunia mau pun film Indonesia.

MIRA LESMANA (Produser Film 3 Hari Untuk Selamanya, Laskar Pelangi)
- Untuk mulai memahami betul ada apa sih di film Indonesia? Karena pada saat nantinya mereka akan masuk kedalam film dan masalahnya ini juga. Apalagi generasi muda, karena merekalah nantinya yang akan membawa film Indonesia kedepan.


RIRI RIZA (Sutradara 3 Hari Untuk Selamanya, Laskar Pelangi)
- Sebagai orang yang mencari sesuap nasi di film, semoga tetap kita jadi produktif jadi lebih baik, berharap semoga film jadi bagian pensting masyarakat. Karena sekarang kita sudah punya banyak orang yang berpropesi menjadi sutradara, cameraman, wartawan film, dll.
- Kita juga butuh kebijakan lebih bagus, seperti sekolah film bisa lebih baik agar produknya bisa jadi lebih baik. Dan sudah saatnya pemerintah mikir jangan sampe ketika ada film yang bagus dan menghasilkan, pemerintah lalu mengajak para Negara tentangga untuk nonton film dan bilang, inilah film Indonesia. So’ bullshit lah pemerintah.

PAMELA MUUCHIRUB (Mahasiswa Film dari Perancis yang belajar di IKJ)
- Semoga acting pemain film Indonesia bisa lebih bagus lagi jangan terlihat seperti overacting.
- Pengajar film datang bisa tepat waktu lagi untuk mahasiswanya bisa lebih kritis lagi jika dosennya telat, dan semoga Indonesia sekarang mulai memiliki teori film sendiri, karena sekarang masih mengikuti teori dari perancis dan amerika.

NABILA (PENIKMAT FILM SMAN 60 JAKARTA)
- Film Indonesia kalau bisa jangan kebanyakan lagi adegan itunya (Sex), dan saatnya filmmaker muda mulai di percaya untuk buat film.



Blog EntryCIRI-CIRI KHUSUS IMPRESIONISME "SEJARAH FILM"Feb 14, '08 9:29 AM
for everyone
KUSEN DONY DOSEN FFTV IKJ


CIRI-CIRI KHUSUS IMPRESIONISME

Sifat sinema impresionisme ini mempunyai danpak yang sungguh-sungguh pada gaya dan struktur naratif dari film impresionisme. Tehnis film ini berfungsi untuk menyampaikan suatu subjektivitas dari sebuah karakter.

Film-film impresionisme meletakkan kekuatannya pada tehnik kamera dan editing. Yang terpenting dari impresionisme adalah penggunaan film tehnis yang dapat menampilkan karakter sebuah objek secara subjektif. Kesubjektifannya ini adalah yang termasuk juga penggambaran mental atau pun kualitas gambar, misalnya pandangan, masa depan, masa lalu, kenangan, memory, ataupun mimpi, change focus, shot-shot Point of View atau sudut pandang, dan memberikan karakteristik walaupun tanpa point of view di dalam setiap pengambilan gambar. Karena hal-hal tersebut dan karena ketertarikan mereka terhadap suatu karakteristik, banyak seniman impresionisme yang menggunakan inovasi dari kerja kamera. Misalnya pada suatu adegan film ada bagian gambar yang di buat blur/buram dan pada bagian gambar yang lainnya di buat terlihat dengan jelas. Film-film impresionisme selalu menggunakan pergerakan kamera di mana untuk memperlihatkan suatu subjektivitas dan juga untuk meningkatkan kualitas fotogenie. Impresionisme juga menggunakan editing yang beritme cepat. Film-film impresionisme juga sudah menggunakan setting tempat dan property yang alami atau real. Ekspresi tokoh dan gerakan dari pemainnya juga sudah tidak di lebih-lebihkan, dan terlepas dari pengaruh teater. Belum lagi pengaruh dari superimpocition dan sorot balik yang berguna untuk memperlihatkan peran-peran yang mempunyai kesan tangguh atau perasaan impresionisme.

Sedangkan di dalam kenyataannya, benar di dalam film di semua negara sudah menggunakan alat-alat dan tehnik seperti itu sebagai daya tarik dan menjadikannya popular di bioskop-bioskop awal di negara Perancis.

AKHIR DARI IMPRESIONISME PERANCIS

Sama seperti layaknya kehidupan, aliran seni impresionisme tersebut juga mengalami masa “surut” yang akhirnya lama-kelamaan mulai menghilang dan di gantikan oleh sebuah karya seni lainnya yang baru. Dimana pada suatu titik, yang pada akhirnya aliran impresionisme pun benar-benar mulai menghilang, dan lenyap.

Hal yang seperti ini terjadi juga pada zaman/era impresionisme, di karenakan para pekerja seni atau para seniman di negara Perancis, dan termasuk juga masyarakat dari negara Perancis itu sendiri. mulai merasakan letih dan bosan terhadap sesuatu yang sama atau yang itu-itu saja. Dan dari pada dasarnya pula, Para pekerja seni atau para seniman memiliki suatu naluri yang alamiah kalau mereka “wajib” menemukan dan “melahirkan” suatu tehnik aliran atau gaya dan bentuk seni yang baru, atau yang biasa kita sebut sebagai sebuah form and style seni yang baru.

Hal-hal dan factor-faktor tersebutlah yang memiliki andil besar, dan Sehingga pada akhirnya mereka (para seniman di Negara Perancis) pun melakukan berbagai macam percobaan kembali dan menemukan aliran dan gaya dan bentuk seni yang baru, atau yang biasa kita sebut sebagai sebuah form and style. Maka dari hal-hal tersebutlah, dapat lahir dan muncul suatu “gebrakan” baru yang berasal dari berbagai macam pemikiran para seniman di Negara Perancis.


Blog EntryTEORI IMPRESIONISME SEJARAH FILMFeb 14, '08 9:28 AM
for everyone
KUSEN DONY DOSEN FFTV IKJ



TEORI IMPRESIONISME

Pergerakkan Gaya dan bentuk dari aliran impresionisme ini berasal dari pandangan dan kepercayaan sutradara-sutradara Perancis yang menyatakan bahwa sinema atau film itu sebagai sebuah perwujudan dari bentuk seni. Mereka mengekspresikan hal tersebut ke dalam berbagai macam bentuk, baik ke dalam bentuk puisi, dan terkadang bisa juga dalam bentuk essay yang abstrak. Hal tersebut juga dapat membantu seseorang untuk dapat menemukan jati diri mereka sendiri sebagai sebuah kelompok dari suatu aliran yang jelas. Aliran Impresionisme ini memperlihatkan suatu seni itu sebagai sebuah bentuk ekspresi dan cara penyampaiannya yang memperlihatkan pandangan pribadi dari seorang seniman itu sendiri. seni membuat sebuah pengalaman, dan pengalaman tersebut membawa para penonton untuk mencapai dan merasakan sebuah emosi tertentu yang ingin di sampaikan. Seni menciptakan hal-hal tersebut tidak hanya dengan pernyataan yang jelas, tetapi juga melalui cara mempengaruhi mereka. Seni menciptakan hal-hal yang seperti ini tidak hanya melalui pandangan dari seorang sutradara saja, tetapi juga melalui dari apa yang dapat mereka timbulkan dan dari apa yang dapat mereka rasakan. Intinya, pekerjaan dari seni itu sendiri adalah untuk menciptakan sebuah impresi. Tetapi, Terkadang teori impresionisme juga mengatakan bahwa bentuk dari sinema atau pun film adalah merupakan dari suatu bentuk gabungan dari banyaknya unsur-unsur seni yang terdapat di muka bumi ini, baik melalui bentuk, gerakan, dan sebagainya yang merupakan bentuk dari segala macam bidang kesenian, semuanya itu terangkum dalam suatu maha karya seni yang kita sebut dan kita kenal sebagai sinema atau pun film. Hal tersebut menciptakan suatu hubungan yang saling berkaitan dengan erat dan tidak dapat terpisahkan, seperti misalnya arsitektur, lukisan, seni pahat atau bentuk, dan sebagainya. Karena sinema atau pun film di katakana sebagai suatu bentuk seni yang paling sempurna, maka di dalam stnema atau pun film ini pula juga terdapat banyak unsur-unsur dan berbagai hal yang menunjang dari bentuk kesenian yang sempurna itu sendiri, misalnya termasuk di dalamnya ada ritme, seperti lagu, puisi, gerak tubuh atau tari. Semua hal tersebut membuat para pembuat film yang kita sebut sebagai sineas, untuk selalu membuat sebuah karya sinema atau pun film yang bertemakan cinema pur atau pure cinema. Di mana film-film cinema pur atau pure cinema ini berbentuk abstrak. Bentuk abstrak dari cinema pur atau pure cinema di sini adalah yang lebih mengutamakannya pada grafis dan bentuk-bentuk temporal, yang terkadang berbentuk tanpa cerita/narasi.

Impresionisme juga “menawarkan” sebuah konsep yang di sebut dengan photogenie, yang artinya terlihat bagus di kamera, sebuah masa yang mengindikasikan sesuatu menjadi lebih kompleks di bandingkan objek yang sebenarnya. Buat mereka photogenie adalah dasar dari sinema. Louis Delluc mempopulerkan bentuk ini sekitar tahun 1918, ia menggunakannya untuk meningkatkan kualitas sebuah shot film dari objek asli fotografi.


Blog Entrysejarah film IMPRESIONISME PERANCISFeb 14, '08 9:27 AM
for everyone
sejarahfilmdunia.blogspot.com
KUESEN DONY DOSEN FFTV IKJ


IMPRESIONISME PERANCIS

Selalu berubahnya masa-masa krisis keterpurukan di negara Perancis ini juga di alami oleh banyak industri, yang mungkin menjadi suatu manfaat bagi negara Perancis yang akhirnya berpaling ke aliran impresionisme. Berbagai perusahaan pun mau untuk bereksperimen, untuk sebuah alternative.

Masalah yang di hadapi oleh produksi film Perancis di periode tahun 1918 sampai dengan tahun 1928 di turuti oleh beberapa factor yang mendukung. Misalnya pada tahun 1920an, yang kebanyakan mengimport film ke negara Perancis adalah kebanyakan film-film produksi Amerika Serikat (Hollywood), terutama di awal decade, sekali pun Amerika Serikat (Hollywood) mengalami ke munduran terus-menerus di pertengahan tahun 1920.

Situasi yang terus-menerus seperti itu pun akhirnya lama-kelamaan semakin mulai membaik, dan film-film luar negeri pun akhirnya mengalami kesulitan untuk dapat menempati keuntungan pasar di Amerika Serikat (Hollywood), dan film-film roduksi Perancis hanya memiliki kemungkinan kecil untuk bisa berhasil selama berada di periode ini, dengan Amerika Serikat mendominasi keseluruhan pasar, maka negara Perancis pun hanya bisa menghitung dan membatasi pengeluarannya terutama di negara-negara tetangga, seperti Belgia, Switzerland, dan negara-negara jajahan Perancis seperti di Afrika dan Asia Tenggara. Pasar produksi negara Perancis sendiri pun termasuk relative kecil, dan film-film mereka sendiri akhirnya mengalami kerugian. Berlanjut pada sinema Perancis yang seharusnya dapat membantu persaingan di luar negeri. Untuk di tahun sesudah Perang Dunia I, akhirnya Perancis pun menunjukkan gaya baru mereka yang di kenal dengan impresionisme yang di harapkan dapat membantu sinema dalam negeri mereka.

Sebelum Perang Dunia I, yang mengatur industri perfilman Perancis adalah dua perusahaan film besar yaitu Pathe dan Gaumon. Sesudah Perang Dunia I ke duanya kembali di sector yang tidak terjamin di dalam industri produksi dan sentralisasi dalam keuntungan dari hasil distribusi dan eksebisi. Demikian dengan perusahaan besar Perancis yang di bangun dari integrasi vertical seperti yang telah memperkuat industri Hollywood. Aektor produksi film Perancis sedikitnya terdapat beberapa perusahaan film yang tidak terlalu besar, dan yang mendominasi perusahaan film yang kecil. Produksi yang seperti ini adalah sebagai bentuk strategi untuk memperoleh sedikit harapan agar dapat berhasil bersaing dengan Amerika Serikat.

Antara tahun 1918 dan tahun 1923, generasi baru para filmmakers berpendapat bahwa sinema atau film adalah seni. Sutradara-sutradara Perancis beranggapan bahwa pembuatan atau produksi film Perancis sangatlah membosankan di bandingkan dengan film-film Hollywood yang jauh lebih menarik dan banyak di minati oleh orang-orang pada saat sepanjang masa perang. Film-film mereka (Hollywood) mempertunjukkan keterpesonaan dengan gambar-gambar yang indah dan menarik perhatian pada eksplorasi psikologi yang sangat kuat.

Pada saat masa-masa tersebutlah, akhirnya muncullah nama-nama seperti Louis Delluc, Abel Gance, Germaine Dulac, dan Marchel Wherbier. Mereka semua adalah sineas-sineas negara Perancis yang ingin membangkitkan kembali eksistensi film-film Perancis. Mereka semua, terutama Louis Delluc, menginginkan bangkitnya sinema Perancis dengan bentuk baru yang khas Perancis yang menampilkan identitas dari negara Perancis itu sendiri yang dari dulu memang di kenal sebagai negara seni terbesar yang pernah ada di dunia. Louis Delluc akhirnya mengeluarkan statementnya yang menyatakan kalau “FILM PERANCIS HARUS MENJADI SINEMA, SINEMA PERANCIS HARUS MENJADI PERANCIS”. Maksud dari pernyataan Louis Delluc ini adalah sinema dari Perancis itu sendiri harus memiliki ciri khas dari identitans negara Perancis itu sendiri. karena hal tersebut, Louis delluc akhirnya membuat pernyataan tersebut. Hal ini berguna Untuk memacu kebangkitan sinema Perancis itu sendiri. Di dalam hal ini Louis Delluc banyak menggunakan eksperimen. Eksperimen-eksperimen yang ia lakukan di dalam filmnya adalah dengan cara memaksimalkan fungsi kamera ke dalam filmnya. Yang di maksud fungsi kamera di sini bukan mengarah kepada pengaturan kamera itu sendiri, tetapi lebih kepada tehnis dan cara-cara pengambilan gambar atau pun adegan-adegan di dalam film Louis Delluc itu sendiri. Contoh-contoh yang di lakukan oleh Louis delluc dalam memaksimalkan fungsi kamera adalah dengan cara-cara yang pada saat masa-masa tersebut dapat di bilang atau di katakan sangat ekstrem, seperti melempar kamera untuk mendapatkan efek melempar sesuatu entah barang atau apa pun juga. Yang terlihat dari film Louis Delluc pada saat ia menggunakan eksperimen ini ke dalam filmnya, ia ingin menampilkan bentuk visualisasi dari efek salju yang di lempar. Louis Delluc lalu melakukan eksperimen lain menggunakan kamera dengan cara mengikat kamera di kaki kemudian di bawa jalan atau pun berlari. Louis Delluc melakukan ini untuk mendapatkan efek langkahan kaki yang sedang berjalan, berlari, dan sebagainya. Semua eksperimen yang di lakukan oleh Louis Delluc ini tentunya memerlukan dana yang tidak sedikit. Karena, untuk melakukansemua eksperimen-eksperimennya tersebut, banyak sekali kamera film yang rusak atau pun hancur pada saat eksperimen tersebut di lakukan. Kamera-kamera film tersebut rusak dan hancur karena eksperimen yang di lakukan oleh Louis delluc hasilnya di anggap gagal olehnya, lalu ia kembali melakukan eksperimen-eksperimen tersebut kembali untuk mendapatkan hasil yang lebih baik dari pada yang sebelumnya. Karena membutuhkan biaya yang tentunya sangat besar, seluruh eksperimen yang di lakukan oleh Louis Delluc ini pun akhirnya di biayai oleh sebuah Industri yang bergerak di bidang perfilman di negara Perancis. Industri ini yang juga menginginkan adanya kebangkitan di dalam perfilman Perancis.

Selain Louis Delluc, tokoh sineas Perancis yang juga memiliki peranan penting di dalam kebangkitan sinema Perancis pada masa Impresionisme Perancis adalah Germain Dulac. Germain Dulac telah membuat beberapa film impresionis penting bagi kebangkitan perfilman di negara Perancis tersebut. film-film Germain Dulac yang berpengaruh penting pada masa impresionisme salah satunya termasuk The Smiling Madame Beudet dan Gossette (1923), tetapi Germain Dulac lebih banyak menuangkan karirnya untuk membuat drama-drama konvensional yang di peruntukkan untuk “konsumsi” negara Perancis.

Selain mereka, Abel Gance pun turut mengambil bagian dalam sinema impresionisme Perancis. Film Abel Gance yang berjudul La Dixième symphonie adalah film besar pertama yang menggunakan aliran impresionisme di negara Perancis. Abel Gance mengesankan, kalau reaksi emosi yang di bentuk oleh penonton yang berusaha menyampaikan suatu “impresi” sensasi dan emosional, pada akhirnya menjadi ciri khas pada aliran impresionisme. Yang pada akhirnya memberikan sebuah pemahaman, kalau sinema inpresionisme Perancis adalah bahwa sebuah kenyataan dapat di sebut dan dapat di nyatakan sebagai sebuah kenyataan jika segala sesuatunya yang terlihat dengan mata adalah sesuatu yang real atau nyata. Selain film tersebut, masih banyak lagi film-film yang telah di buat oleh Abel Gance pada masa sinema impresionisme Perancis, Belum lagi film-film yang panjang dan mahal hasil karya atau buatan Abel Gance sendiri yang berjudul J’accuse dan La Roue, yang membuat seorang Abel Gance menjadi seseorang yang terkenal sebagai salah satu tokoh penting kebangkitan sinema Perancis pada zaman impresionisme.

Para filmmakers Perancis di Bantu dengan “krisis” industri Perancis. Karena perusahaan-perusahaan sering mengubah kebijakan mereka (seperti para pengimport film harus di kenakan beberapa biaya, dsb) atau reorganisasi. Dari hal-hal tersebut, para filmmakers mempunyai berbagai macam cara untuk dapat memperoleh anggaran yang menguntungkan. Beberapa sutradara dari aliran impressionist ini juga membagi waktu mereka di antara proyek-proyek avant-garde dan lebih banyak keuntungan mengalahkan film. Sedikit dari para impressionist ini yang bekerja dengan keras dengan style yang lebih di sukai oleh banyak orang.

Walau pun pada umumnya banyak sutradara yang membuat bentuk avant-garde, tetapi mereka juga membagi waktu untuk membuat film yang biasa. Abel Gance, adalah orang pertama yang beralih profesi dari penulis scenario ke sutradara, dan ia memulai debutnya dan masuk ke dunia film pada tahun 1911.


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help