hasil wawancara gw pribadi yang di terbitkan oleh,,,,Harian Warta Kota 6 April 2008. Redaksi TaMu.
Apalagi harapan mereka banyak banget ada yang berharap pendidikan film di perbaiki, bioskop di tambah, musik film di perbaiki lagi, dukungan untuk film documenter, dll.
ABDUH AZIZ (Produser Film Dokumenter) - Dokumenter saat ini kegairahan sudah ada, tentunya dengan kemampuan teknis pembuatan film dan kemampuan jurnalistik untuk menggali dan menganalisa masalah yang masih harus di perbaiki. Terus semoga makin banyak pihak yang mau mendukung secara financial, karena ini salah satu masalah documenter sekarang.
AGI (Composser Berbagi Suami) - Saya berharap filmmaker mereka membuat film dengan porsi yang benar tidak selalu memikirkan komersialitas dan menganggap kalau musik film itu penting dan bisa mensukseskan film itu sendiri.
AGNI ARIATAMA (Dosen Sinematografi film IKJ, Sinematografer film) - Film bukanlah hanya milik KFT (Karyawan Film dan Televisi), organisasi film, komunitas, sekolah film atau pun pemerintah. Tapi film milik semua masyarakat film Indonesia, jadi perbaikilah diri sendiri dulu untuk memperbaiki kondisi film saat ini.
CAMELIA (Senat Film IKJ) - Sudah saatnya sekarang bioskop di tata lagi, jangan sampe anak di bawah umur bisa menonton adegan film yang gak sepantasnya mereka lihat, paling gak system klasifikasi bisa jadi salah satu cara.
DAVID TARIGAN (Aksara Records, Produser Soundtrack Film) - Berilah kesempatan lagi anak muda untuk berkarya, karena akan ada banyak sesuatu yang beda dari mereka yang di tawarkan.
JB KRISTANTO - Standar Produksi harus di tingkatkan kembali, jangan sampai karena ingin menghemat budget jadi mengurangi kualitas. Dan semoga tumbuh lagi bioskop di tingkat kecamatan karena itu bisa merangsang penonton untuk menonton kembali.
DJENAR MAESA AYU (Sutradara dan Penulis “Mereka Bilang Saya Monyet”) - Berharap investor lebih bijaksana lagi jangan sampai mereka mendesak lagi para pembuatnya untuk terus berkreasi.
LULU RATNA (Boemboe Forum) - Semoga film pendek di puter di bioskop dan orang bayar….hahaha…(letawa ngakak) - Semoga lebih banyak lagi sineas yang mau mengerti dan belajar sejarah film dunia mau pun film Indonesia.
MIRA LESMANA (Produser Film 3 Hari Untuk Selamanya, Laskar Pelangi) - Untuk mulai memahami betul ada apa sih di film Indonesia? Karena pada saat nantinya mereka akan masuk kedalam film dan masalahnya ini juga. Apalagi generasi muda, karena merekalah nantinya yang akan membawa film Indonesia kedepan.
RIRI RIZA (Sutradara 3 Hari Untuk Selamanya, Laskar Pelangi) - Sebagai orang yang mencari sesuap nasi di film, semoga tetap kita jadi produktif jadi lebih baik, berharap semoga film jadi bagian pensting masyarakat. Karena sekarang kita sudah punya banyak orang yang berpropesi menjadi sutradara, cameraman, wartawan film, dll. - Kita juga butuh kebijakan lebih bagus, seperti sekolah film bisa lebih baik agar produknya bisa jadi lebih baik. Dan sudah saatnya pemerintah mikir jangan sampe ketika ada film yang bagus dan menghasilkan, pemerintah lalu mengajak para Negara tentangga untuk nonton film dan bilang, inilah film Indonesia. So’ bullshit lah pemerintah.
PAMELA MUUCHIRUB (Mahasiswa Film dari Perancis yang belajar di IKJ) - Semoga acting pemain film Indonesia bisa lebih bagus lagi jangan terlihat seperti overacting. - Pengajar film datang bisa tepat waktu lagi untuk mahasiswanya bisa lebih kritis lagi jika dosennya telat, dan semoga Indonesia sekarang mulai memiliki teori film sendiri, karena sekarang masih mengikuti teori dari perancis dan amerika.
NABILA (PENIKMAT FILM SMAN 60 JAKARTA) - Film Indonesia kalau bisa jangan kebanyakan lagi adegan itunya (Sex), dan saatnya filmmaker muda mulai di percaya untuk buat film.
| |
|