Blog EntryProfile : Jose Rizal ManuaMar 8, '08 12:33 AM
for everyone
##Tulisan Gue yang Kembali Diterbitkan Oleh Harian Warta Kota Jakarta

Lahir di Padang, 15 September 1954. Jose Rizal Manua, memulai dunia peran dan drama dikelurahan untuk pementasan 17 agustus-an, ketika itu beliau bermukim di kalibata. Mungkin hanya sedikit orang atau juga samar-samar yang tahu siapa sih Jose Rizal Manua, atau yang akrab disapa Mas Jose (baca Yos), ini. Untuk orang-orang pecinta teater, mungkin tak asing lagi. Karena beliau salah satu dedengkot dunia teater Indonesia.
Tahun 70-an Mas Jose bergabung bersama W.S Rendra, Putu Wijaya, dan Teguh Karya, kerja tim bagian teater dan itu membuatnya semakin semangat dibidang seni.
Hingga akhirnya tahun 1981 Mas Jose, menikah dengan Bu Nunum. Bisik-bisik dari sang istri, dulu mertua Mas Jose takut loh kalau Bu Nunum berhubungan dengan Mas Jose. Karena dengan alasan seni itu enggak ada masa depannya. Apalagi rambut Mas Jose yang panjangnya mencapai sepinggang.
Tahun 1988, Mas Jose berangkat ke New York, bersama W.S Rendra dan teman-teman lainnya. Mereka mengikuti The first New York Festival. Baru sepulangnya dari New York. Beliau mendirikan Teater Tanah Air. Tapi kenapa diberikan nama itu? “Suka aja, nama itu mengingatkan kita kecintaan pada Indonesia”kata Mas Jose, yang berambut panjang sepinggang.
Di kelompok teater yang semuanya ia hidupi sendiri ini. Mas Jose, membawa teater ringan yang dicintai oleh anak-anak. Anggotanya juga terdiri dari siswa SD, SMP dan dewasa juga ada. “Hakikatnya ini didirikan untuk menampung minat, banyak manfaat didalam teater”kata Mas Jose, yang sangat ingin teater itu masuk menjadi pelajaran dalam kurikullum.
Tiga puluh enam tahun bersama anak-anak membangun Teater Tanah Air. Pembaca puisi humor ini dianggap sebagai penerus Alm. Deliana Surawijaya, sang pelopor teater anak-anak di Indonesia.
Walaupun mendirikan teater ini sendiri dan atas biaya sendiri. Tapi, justru teater ini banyak peminatnya. Sampai sekarang telah beranggotakan lebih dari 100 anak-anak dan remaja aktif. Prestasi teater pimpinannya ini juga sangat gemilang dikancah internasional. Memulai debut sebagai pendatang baru Organisasi Teater Amatir Internsional AITA / IATA. Dan bahkan mendapat kesempatan tampil di “9th World Festival of Children’s Theatre” pada 14-22 Juli 2006 di Jerman. Teater pimpinan Mas Jose ini mendapatkan 19 medali emas. Sebelumnya di tahun 2004 di “The Asia – Pasific of Children’s Theatre 2004” di Jepang, teater ini juga mendapatkan 10 medali emas. Dan sangat menarik, Mas Jose, harus mau nombok 20juta lebih untuk keberangkatan, kontingen ke Jepang. “Waktu itu kita sudah menyerahkan 70 proposal untuk sponsor, tapi semuanya ditolak. Dengan alasan tak ada dananya”ungkap Bu Nunum, sang istri tercinta. Berangkat dengan biaya seadanya, tanpa bantuan dari pemerintah. Tak membuat kendur semangat Mas Jose. cara mengajarnya yang mengambil metode secara alam beliau membiarkan anak didiknya berimajiansi sendiri pada peran mereka, justru itulah membawanya mendapat penghargaan di Jepang dan Jerman. Mas Jose mendapatkan medali emas sebagai sutradara terbaik. “Malahan teater Indonesia waktu ke Jepang itu, enggak dipandang oleh Negara-negara lain, tapi ketika naik pentas, semua mata orang menuju kekita”kenang Bu Nunum, yang selalu setia mendampingi ketika Mas Jose melatih anak-anak. “Bahkan kita yang engak punya apa-apa justru sesudah tampil, malah diundang oleh Negara-negara peserta waktu itu, untuk tampil dinegara mereka”cerita Mas Jose, sedikit terharu. Setelah mendapat itu semua Mas Jose tak langsung berpuas diri dan lekas sombong. Mas Jose sangat senang “Tapi kita harus selalu mawas diri, karena kita enggak selalu mampu jadi yang terbaik”ucap Mas Jose yang sedang mempersiapkan teater untuk pertunjukan Festival Teater Anak-anak se-Dunia di Moskow, Rusia tahun 2008 nanti.
Didalam keluarga. Mas Jose, juga dikenal sebagai orang yang pengertian, sabar, begitu pengakuan sang istri. Niken sang putri terkecil juga merasa bangga mempunyai papa seorang Mas Jose, bahkan ia mengatakan kalau idola teater-nya, yaahh…papanya. Kelima anaknya juga, bergelut dibidang seni. Bukan atas paksaan Mas Jose, tapi justru karena kejahilan mereka sendiri yang sering mengganggu Mas Jose mengajar, yang justru anaknya malah keterusan dan menikmati dunia seni peran ini.
Jose Rizal, juga tak hanya piawai sebagai sutradara teater atau sebagai pelakon teater. Jose Rizal yang dikenal sebagai dramawan yang banyak menyumbangkan buku-bukunya ke daerah-daerah terpencil, juga sangat menyukai seni sastra. Pada tahun 1980-1986 Jose Rizal menjadi raja didunia sastra puisi. “Dulu, sampai saya enggak boleh ikut lagi tiap ada lomba baca puisi, bukan oleh penyelenggaranya saja tapi juga oleh jurinya. Karena saya sudah pasti menang. Yaudah! Dulu saya bilang, kalau saya enggak boleh ikut saya harus jadi jurinya”cerita Mas Jose dengan semangat.
Suka duka didunia teater sudah banyak dialami oleh Mas Jose. “Dukanya itu karena kita belum bisa hidup dari teater”keluh Mas Jose. “Kalau untuk penonton sepi, yaaahh…itu sangat umum, karena Negara berkembang emang begitu”tambah Mas Jose lagi.
Mas Jose, juga masih mempunyai obsesi dan cita-cita yang belum tercapai sampai saat ini. Obsesi-nya adalah untuk memiliki perpustakaan berjalan, sampai sekarang juga belum terwujud dan cita-citanya bagaimana agar teater itu bisa menjadi pelajaran, bisa masuk kurikulum, jangan cuma jadi ekskul, juga belum terwujud, karena pak Menteri hanya iya saja. “Saya sih didalam, seminar pembicaraan atau undangan-undangan sudah sangat sering ngomong. Bahkan dengan menteri juga sudah ngomong. Bagaimana teater itu bisa menjadi kurikulum pelajaran, karena manfaatnya sangat banyak. Yaahh…tapi itulah mereka cuma iya…iya saja” keluh Mas Jose, lagi.
Karena menurut Mas Jose, seharusnya teater itu sudah diajarkan sejak TK karena manfaatnya banyak. Biar anak-anak itu berani mengungkapkan pendapat, mengajak gurunya debat, anak-anak jadi berani mengritik tapi tetap dalam santun, Imajinasi mereka juga terlatih, mereka bisa tambah PD (percaya diri). “Karena ada anak yang didepan kelas untuk memandang gurunya saja enggak berani”kata Mas Jose, yang selalu menaruh buku ditempat tidur anaknya, agar pagi-pagi ketika mereka bangun mereka bisa langsung membaca buku dahulu.
Oke deh…Mas Jose, semoga saja Pak Menteri, langsung cepat melaksanakan dan enggak cuma bilang iya. Semoga juga, Moskow tahun depan, pemerintah dan sponsor sudah mau mengulurkan tangan mereka.


Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help