##Tulisan gue yang di terbitkan oleh Harian Warta Kota Jakarta:
Teater bukan barang yang baru di Negara kita. Kelompok-kelompok teater besar juga bermunculan di
tanah air ini, misalnya Teater Koma ataupun Teater Tanah Air. Sayangnya, teater-teater di Indonesia masih menampilkan pertunjukan yang selalu saja menguras pikiran. Terkesan serius, bahkan untuk mengetahui pesan dalam ceritanya harus memutar-mutar otak kita dulu, karena pesan yang ingin mereka sampaikan tersimpan secara tersirat. Tapi teater itu sendiri apa sih? Menurut Mas Jose Rizal Manua, teater itu tempat pertunjukan, tapi semakin menuruti perkembangan, teater itu adalah pertunjukan teater itu sendiri.
Di Indonesia sebuah pertunjukan teater akan sulit untuk dijual. Walaupun persiapan produksi untuk melakukan satu pertunjukan mereka tak jauh berbeda dengan mempersiapkan sebuah film. Karena harus menulis skenarionya dulu, pendalaman karakter yang kadang juga harus observasi, dan kedua ini tak cukup dilakukan hanya dalam waktu beberapa hari ataupun beberapa bulan saja. Seperti yang dilakukan Totos, Director and Script Teater SMA Tarakanita 1 bejudul “Naga Bonar”. Lulusan IKJ tahun 1991 ini, untuk p
ementasan Naga Bonar, memerlukan waktu cukup lama, sekitar 6 bulan.
Bahkan ketika TaMu secara tak sengaja bertemu seorang Kakek, yang sudah menggeluti dunia teater sejak ia lulus SMP. Pernah menggarap sebuah pertunjukan sampai 2 tahun dan setelah dua tahun itu, cerita yang ia dan teman-temannya garap tak jadi
dipentaskan karena ada beberapa hal yang tak bisa diteruskan lagi, juga karena iklim yang sudah enggak proporsional lagi dengan cerita.
Dan menurut Totos, kenapa kebanyakan orang malas menonton teater, adalah karena orang cepat bosan, kadang tak terhibur, dan teater-teater banyak membuat orang terlalu berpikir.
Pendapat berbeda diungkapkan oleh Kakek yang telah bergelut di teater sejak tahun 1976, ini berpendapat. Kalau teater itu tergolong penggarapan mereka, mau diarahkan kemana teater ini, ke komersil atau hanya sebatas hiburan saja.
“Jadi, tergolong ceritanya juga, apakah menguntungkan kedua belah pihak atau enggak, bagi keduanya. Jika menguntungkan pasti penonton dan sponsor akan datang dengan sendirinya”ucap sang kakek, yang sudah menyutradarai teater lebih dari 26 pertunjukan teater.
Begitu juga yang disampaikan oleh Jose Rizal Manua. Beliau menyangkal kalau teater berat “Enggak juga, orang India, Uganda, Zimbabwe semuanya pada ngerti”kilah pendiri Teater Tanah Air, ini. “Teater itukan sebuah perenungan, jadi wajar jika di negara-negara berkembang orang cepat bosan, karena orang –orang dinegara berkembang males merenung”tambah beliau lagi.
Bahkan Seorang pelakon teater yang namanya tak mau disebut, mengatakan bahwa sebenarnya ada tiga pilar budaya yang harus dikuasai oleh pelaku seni. Pertama, logis, semuanya itu bisa didapat jika kita berpikiran logis, yang baik dan benar kita ambil yang buruk buang jauh-jauh. Kedua, Etika, ini tujuan perangkap seorang seniman. Ketiga, Estetika. Dengan ketiganya inilah seni akan kita pahami.
Jumlah peminatnya masih sedikit. Tapi, uniknya justru semakin banyak sekolah-sekolah yang mengadakan eskul teater. Anak-anak muda-pun juga mulai berangsung-angsur mencintai teater.
Walaupun teater sampai sekarang belum ada perhatian berarti dari pemerintah dan juga para sponsor. Orang-orang pecinta teater tetap dengan bangga dan serius menghidupi teater. Begitu juga dengan Teater Tanah Air dulu, yang ketika berangkat ke Jepang, 70 proposal yang diajukan pada sponsor semuanya ditolak semuanya beralasan tak punya dana. Bahkan kemenangan yang mereka bawa pulang ditanggapi dengan dingin. Teater Tanah Air, juga bisa memperlihatkan kalau teater itu bisa dinikmati oleh berbagai kalangan. Terlihat juga seperti Teater Tarakanita 1 pada pertunjukan Naga Bonar, beberapa waktu lalu yang begitu menghibur penonton. Menakjubkan, yang datang semuanya anak-anak muda. Walaupun kebanyakan menonton karena penasaran, dan ingin tahu saja.