tulisan...ala filmmakerIDIOT | |
haaiii...god.. lama kita tak bercerita....hahahhahaa...maaf cukup sibuk akhir2 ini...
untuk kedua kalinya...gw terlibat dan duduk di kursi produksi....yaaahhh....pad aakhirnya kembali teman-teman mempercayai....oleh teman untuk duduk menjadi Produser film mereka dalam tugas penyutradaraan.... Judul filmnya "Teh Black Coffee" di tulis dan di sutradarai...oleh Nadya Andarie. seorang cewek ambon tapi putih, dan mini......
Pada awalnya duduk dan masuk di IKJ, ga ada satupun dari temen-temen yang percaya untuk gw masuk sebagai orang produksi...mereka bilang "Udehh...lu nulis aje,,,cerita ma skenario anak-anak ja yang lo kerjain" gw sedikit tersinggung saat mereka bilang gitu. ..maklum gw selama kuliah film, pengen banget merasain semua job desk yang ada di film...dari produksi, penyutradaraan, skenario, editing, camera, dan laen2...tapi kalo untuk kamera gw harus sadar diri....karena beberapa kali coba ternyata frame yang gw hasilin gak sebagus yang ge bayangin.....
setelah gak ada yang percaya,,, pada satu hari yang biasa......tiba-tiba temen gw pusing,,,karena ia kekurangan orang untuk menjadi Talent Coordinator...maklum kata dia talentnya ada banyak sekitar 20 lebih...itu sudah sama ekstrasnya....gw yang penasaran dengan produksi...mulai aja sok tahu nawarin diri...dan dengan terpaksa akhirnya gw di percaya juga untuk megang 20 talent....
apesnya salah satu cewek yang jadi talent..ada yang gila,,,,,masak tau-tau nongol di depan muka gw, dan bilang..."Mas saya mau beli Roti Jepang" gw yang gak ngerti sontak bilang."Ngapain beli roti, kita ada banyak cemilan kok kalo laper, ada gorengan, es teh" tuh cewek malah pelongo' terus ketawa.... dan gw baru sadar kalo yang dia maksud itu roti jepang adalah softek.....anjrriiitt....
Tapi semenjak itu gw mulai di percaya anak2 buat produserin tugas mereka,,,,bahkan gak lebihd ari satu....
bukannya bangga ,,tapi seenggaknya ,,gw bisa merasakan juga bagaimana jadi seorang produser dan orang produksi....
lelah,letih,kenceng,mumet,bete,kerjaterus,miim tidur, pulsa abis,capek.....dan bla...bla laenya... itu belum shooting lohh...apa lagi pas di lokasi...hhuuuufff.....capek gyla...tapi seruuu...
ku coba untuk duduk diam, seperti gunung... lalu melambai -lambai seperti nyiur di pantai... bergerak,,,lalu merenung.
aku ingin berjalan , begitu santai..lalu duduk sambil merenung seperti gunung. ingin sekali,,berdiam,,lalu berjalan dan duduk kembali merenung..
hmmm....hidup kadang membosankan.....kadang ingin duduk,,lalu berdiri.. kadang ingin diam lalu berjalan... aku ingin seperti gunung...begitu tenang...lalu meledak tak terduga...membuatnya begitu mempesona...
tapi kadang ingin seperti nyiur.....begitu lepas...begitu adanya mengikuti angin....
hhmm....aku ingin diam, lalu berjalan...aku ingin lepas..tapi kadang ingin diam....
hhmm...hidup kadang membosankan...
...
buat teme-temen yang udah berjuang mati-matian pas UAN...dan hari ini udah di umumin...selamat yaahh.... ..semoga bisa lulus juga di SMPMB, UMB, UM ke universitas yang lo mau...
buat Happy...Unpad, pa Lspr neehh Fanisa jadi ke sekolah film di Seattle?? pa masuk IKJ ajalah.....deketan..
buta yang laen....selamat yaahh....dan buat yg kagak lulus......mudah-mudahan taun depan lulus....hahahahahaa...amen
dear god...
sorry malam ini ada 3 surat yang melayang buatmu...
....setelah sekian lama, akhirnya....ada jug ayang menawari untuk menjadi bagian orang-orang produksi, di film, walaupun film pendek dan hanya tugas. Karena selama ini, setiap kali bertanya pada senior alias abang-abangan, yang mereka kasih adalah job desk yang kadnag aku kurang suka, contoh adalah kru artistik....bukan aku gak mau memahami tentang artistik, tapi aku kurang suka jika harus bekerja pada job artistik....aku lebih menyukai ada di daerah UPM......
dan kebetulan, pada saat nongkrong di depan kelas menunggu, kelas editing yang dosennya gak masuk,d an digantikan asdos-nya....datanglah pamela yang sedang mencari ass. produser untuk film dia dan anak S1, tanpa pikir panjang, langsung dah nawarin diri...dan OK.
TAPIII....masya tuhan....itu ribet banget...hahahahhahaaa......... gak seperit yang di bayangin....karena kru yang terbatas, akhirnya ijin dan bla..bla laennya harus kuatur juga.. Dari izin ma tentangga, lokasi, karena genset bakalan brisik banget... ngatur jadwal makan,,,bikin rancangan lauk dan laen-laen.... Sampe minjem filter lampu...... dll...
tapi senengnya Pamela, sang produser, teliti banget dengan semua hal,,,pa lagi soal barnag-barang keperluan dari tiap departement...salut.
ternyata jadi orang produksi itu ribet juga.... jadi entar ambil major apa yaahh.......??? Sutradara? Skenario? Dokumenter? Tata Suara? Animasi? Sinematografi? atau apa yaahhh...??
jadi binun....
dear god...
...kemaren itu gak sengaja buka, halaman web film indonesia, yang berisi artikel-artikel yang cukup menyita perhatian untuk menambah wawasan dunia film...
dan pada artikel itu ada sebuah link tentang rotterdam film festival, dan kebetulan artikel itu membahas tentang, acara rotterdam film festival...saat aku buka, link itu..aku merasa tertantang untuk mencoba mengikuti rotterdam film festival,,,,saya ingin mendapatkan pembiayaan dari Cinemart untuk memproduksi film... Apalagi ide cerita saya, sudah ada dan terpikirkan sejak tahun lalu...rencananya, tahun depan 2009 , aku mau coba menyodorkan ceritaku pada mereka...kurasa satu tahun, cukup untuk menulis semuanya sampai tuntas...hhmm....jadi enggak sabar.,,sekarang sedang mencari-cari teman yang bisa diajak bersama menulisnya atau sekedar tuakr pikiran, juga sedang mencari data dan banyak bertanya pada seniman-seniman kawakan, karena ini berhubungan dengan segala unsur seni...
tuhan...kabulin yah.... :D
thanks
dear god
hari ini selasa 9 juni 2008
pagi tadi dengan semangat aku berangkat dari rumah menuju kampus yangs angat jauh, seakand ari ujung ke ujung. Berangkat dengan motor, akus ampai di kampus jem 8 seperempat. sayang dosen sinematografi belum datang, aku pun kecewa dan berjalan menuju perpus utnuk melanjutkan nonton film teguh karya, "Ibunda". Entahlah beberapa minggu ini sangat bersemangat sekali menonton film-film teguh karya....seperti ada sebuah magnet yang terus menarik untuk ke perpus dan menonton film teguh karya, jika sedang tak ada kerjaan di kampus....
tapi tadi kecewa bertambah, karena ketika...keluar selesai menonton film teguh karya, tenryata dosennya datang....ia datang terlambat,aku ingin masuk, tapi rasanya malas..karena sebentar lagi telah keluar.....
My Dream U Ol and Indonesia
Tak disadari alam raya ini begitu indah dan kaya. Matahari setiap pagi benderang menghangatkan dunia dengan senyum mengembang. Hamparan berjuta-juta ton tumpukan sampah, terasa mirip hamparan bunga indah dipadang maya. Baunya yang menyengat menebar aroma tulip dari Belanda. Dunia terhampar terang, benar-benar cerah, sunggingan sang mentari sepertinya tak mau kalah dengan senyum mesra seorang Tamara, bintang sabun. Sesuatu yang kurang meyakinkan jika ini juga ada di negara lain. Disini, di Indonesia, kita akan melihat banyak keajaiban. Ribuan pulau bernama dan tanpa nama, menebar pesona indah, melontarkan senyum kebanggaan sebagai bagian bangsa, menebar aroma kekayaan alam berlimpah, negara tetanggapun hendak memilikinya. Yakinkah Indonesia itu indah? Dengan kalimat apa, kalian akan menerjemahkan sebuah kata indah? Itu terserahlah. Masih yakinkah Indonesia bangsa yang selalu saling menghormati? Lalu dengan apa, kalian menghormati para pejuang, para mantan pejuang kemerdekaan, hingga kalian bisa duduk dengan layak dan tertawa terbahak? Itu terserah kalian. Tak semua Indonesia indah. Tak selalu Indonesia saling menghormati, sekarang ini, mereka orang-orang berdasi bahkan kau pelajar penerus negeri. Banyak sisi Indonesia yang menyakitkan, tak seindah Indonesia, akankah ada yang lebih indah dari sebuah rasa cinta? Melodi-melodi penyanyat hati dari para musisi, sepertinya layak mewakili kegundahan, keresahan, dan kesedihan akan banyaknya tidak kejujuran. Jerit-jerit derita nestapa, sepertinya cukup mewakili sakit hati dan patah hati penduduk negeri pada sang penguasa akan kecintaan mereka dengan negeri ini. Akan kutanyakan banyak hal, tapi, salah satunya, kemana sang saka merah putih?
Gasi membuka nasi bungkusnya, untuk makan pagi ini. Ia duduk diatas tumpukan sampah. Gunungan sampah-sampah warga Jakarta. Entah berapa puluh mobil truk sampah yang lalu lintas menaruh sampah itu di tempat ini. Menaruh semuanya tanpa terpikirkan akan jadi apa sebab semuanya untuk orang sekitar. Dengan lahap dan cepat Gasi menghabiskan nasinya, suapan demi suapan. Lauk yang ala kadarnya, berisi tempe sambal, dan ikan teri sambal, dengan tanpa cuci tangan lagi, tak perlu waktu berjam-jam untuk ia menghabiskan nasi bungkusnya pagi ini. Selesai makan dan membuang bungkusnya sembarangan, ia lalu beranjak mengambil bendera yang ia taruh sejak tadi disampingnya. Bendera lusuh yang mengingatkan kita dengan ibu negara tercinta. Dengan langkah tegapnya Gasi memasang bendera sang saka merah putihnya. Ia ikat ketiga talinya dan ia tancapkan kayu penyangganya di atas tumpukan sampah yang menggunung. Merah putih berkibar gagah diujung tiang kayu sederhana, kayu yang bahkan tak lurus dengan simetris diatas tumpukan sampah. Dengan tegap, Gasi berdiri dibawahnya, tangannya merapat dikening sebelah kanan, dengan lantang ia nyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, sendirian.
Tak lama berselang, Konto sahabat Gasi datang. “…Kau sedang apa Gasi? Tak ada kerjaan kali kau, tuhan barumu Gas?” teriak Konto teman akrab Gasi. Konto teman satu permainan dan satu pemulung dengan Gasi. Hidupnya sama tak beruntungnya dengan Gasi. Konto, yang berdarahkan batak lebih memiliki cita-cita yang nyata dibanding Gasi. Konto sangat ingin menjadi pemain musik rock. Gasi menoleh pada Konto, matanya menyipit seakan ingin menakuti. “Ini lebih baik dari pada aku menyembah kau ataupun uang, gigimu terlalu kuning untuk menjadi tuhan. Lagipula ini bendera berharga, pernah dikibarkan di istana ketika Habibie masih jadi presiden dulu”balas Gasi sengit, tanpa melepaskan hormatnya pada bendera. Konto yang tengil, hanya menganggap ini sebuah lelucon belaka. “Halah….kawan! Kalau kau mau jadi pejuang, seharusnya kau jangan lahir tahun 89, lahirlah tahun 42 atau 45. Nah…ditahun itulah akan banyak pengikut orang-orang seperti kau”teriak Konto, mengejek Gasi lagi. Tapi, Gasi tak bergeming, ia terus menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan lantang hingga selesai. Konto yang berdiri dibelakangnya hanya duduk berjongkok dan termangu melihat kelakuan Gasi.
Gasi seorang anak buangan. Entahlah ia berasal darimana, yang pasti ia tak mempunyai emak ataupun bapak. Dia mengaku nama aslinya Galaksi, nama yang cukup aneh, belum pernah ada orang bernama seperti itu, kebiasaannya juga selalu membuat orang hilang rasa simpatik, selalu mengupil dan memeperkan upilnya pada orang lain. Tak tahu juga kapan ia datang kepenampungan sampah tanah air ini. Kecintaannya pada Negara kadang membuat orang disekitarnya bingung. Ayahnya yang mantan pejuang, sepertinya mengalirkan darah nasionalisme itu padanya. “Ini masih pagi Gas…seharusnya kita olahraga, atau segera celabam ditumpukan sampah sana, tak kebagianlah nanti kita dengan orang-orang tamak itu. Habis sudah sampah plastik mereka bawa semua, mau makan apa kau nanti? Lagipula kau lebih baik bergabung dengan band rock-ku, kudengar suara kau cukup merdu, mirip Waldjinah”teriak Konto lagi pada Gasi. Sontak Gasi, menoleh ke arah Konto. “Kau menghinaku, apa kau memujiku? Mencoba bermajas litotes juga kau bengak?”Gasi lalu turunkan hormat tangannya. “Apa yang kau tahu tentang bendera kita. Apa yang kau tahu tentang merah putih. Makan sampahpun aku jadi, Kon. Aku tak mau jadi penerus “presiden bingung” yang hanya hormat pada saat tujuh belas agustus saja, itupun karena mereka terpaksa. Karena mereka tak mau kehilangan muka didepan para menterinya yang juga sama-sama “peragu” ”teriak Gasi lantang, seraya mengambil karung dan sepatu bots-nya.
Konto, yang sedari tadi kerjaannya hanya mengejek dan nyeletuk tanpa otak, turut mengikuti Gasi dari belakang. Konto, turut mengambil perlengkapan untuk memulung. “Tapi mereka pimpinan kita Gas, berbahaya jika kau berani berbicara seperti itu, apalagi jika sampai didengar pengikut mereka, masuk penjara kau nantinya. Kau, tak sadar ini Indonesia, kau jujur kau mati, tak kau lihat di Koran tumpukan sampah sana, Bang Munir yang di kenal paling jujur mati diracuni dia, karena dia buka mulut terlalu besar” “Kau ingat Amien Rais, tokoh reformasi?”Tanya Gasi. “Ahh…ingatlah aku…yang badannya pendek itukan? Yang orangnya kecil itu? Taulah aku dia, bekas bapakku dulu pernah memajang posternya diteras rumah, dan tertulis tiga huruf dibawahnya P-A-N. kau tahu apa P-A-N itu Gas” Gasi menghentikan langkahnya. Wajahnya penuh amarah. “Dia juga banyak cakap, banyak berkata banyak, bahkan kau dengar di radio RRI kemaren, dia berani membongkar kasus korupsi yang diduga presiden juga kecipratan, tapi, anehnya dia tidak mati. Bang Munir, mungkin takdirnya saja. Aaahh…sudahlah tak perlu aku jelaskan tak pantas kita bicarakan politik, yang pasti aku tak peduli Kon, lebih baik aku dipenjara, bahkan sampai matipun aku rela, jika harus melihat negeri ini dijual oleh mereka dengan orang asing, bahkan bendera kita tak akan ada lagi dinegara ini, satu persatu bendera kita akan robek, hancur, tak mereka lihat bagaimana merah putih itu siang kepanasan dan malam kedinginan begitu juga dengan hujan, karena kalian semua tak peduli dengan bendera kita, tak pernah mereka rawat, tak pernah mereka cuci. Tak peduli itu dihalaman menteri, kampus mahasiswa yang anarki, kepolisian yang arogan atau bangku sekolah penerus bangsa”Gasi lalu melengos pergi, kembali ia memunguti sampah-sampah tulang punggung hidupnya, mahari pagi mulai beranjak tinggi, membuat badan mulai gatal-gatal berkeringat panas. Konto, yang masih penasaran dengan perihal kematian, malah nyeletuk asal. “Mungkin, Pak Amien, harus naik pesawat keluar negeri dulu Gas, nanti baru dia mati diracuni juga”celetuk Konto, asal. Membuat kepalanya di pukul oleh Gasi. “Tapi bertahun-tahun kau menjadi sahabatku, Gas, tak mau aku kehilangan kau, oleh karena itu kau tak usah bermulut besar, banyak-banyak saja berbohong, biar kau tak mati”ucap Konto, memasang wajah cengengnya. “Itu lambang Negara kita Kon”tunjuk Gasi, pada bendera yang terus berkibar-kibar. “Tapi, Gas….” Gasi, mulai mengalihkan pembicaraannya. “Kau lihat kemana Wamena? Aku tak melihatnya dari semalam, bukankah seharusnya pagi ini ia mencari sampah dengan kita?”Gasi, memotong perkataan Konto. “Haallllaaahhh….kau ini, aku belum selesai bicara. Soal Wamena? Entahlah aku juga tak melihatnya kemana, mungkin dia sudah kembali lagi ke asalnya Papua? Aku duluan Gas!”Konto, lalu melengos pergi meninggalkan Gasi, yang masih memikirka Wamena.
Sore menjelang Matahari jingga menggantikan sinar terang mentari siang. Gelayut malam dengan iringan awan hitam akan segera datang. Gasi duduk diatas tumpukan sampah tertinggi. Jaket tebal dan bau menyelimuti punggungnya, karung tempat hasil pulungannya ia taruh tepat disampingnya, hari ini ia cuma dapat setengah dari isi karungnya. Pikiranya yang terus memikirkan Wamena, membuatnya tak konsentrasi mencari barang-barang bekas. Matanya tertuju kosong, nanar jauh kedepan. Wajahnya murung, ditekuknya kedua kakinya, ia topang dagunya pada kedua dengkulnya, dipejamkannya kedua matanya, tapi tangan kirinya terus saja menggali upilnya. “Kamu menangis Gas?”Luna datang tiba-tiba, ia merangkul Gasi dan duduk jongkok disebelahnya, sepertinya ia tak mau mengotori baju seragamnya yang pastilah mahal. Luna anak orang kaya di perumahan komplek. Gasi dulu pernah menyelamatkan Luna, Gasi masih diam, perlahan-lahan ia membuka matanya. “Kamu sedang mikirin apa Gas? Sesuatu yang sedih pasti, aku sudah beberapa kali melihatmu disini, duduk termenung, sendirian, melamun, dan kadang kau meneteskan air matamu. Bahkan jauh sebelum aku mengenalmu aku sudah sangat sering melihatmu”Luna, merebahkan kepalanya di bahu Gasi. “Lepaskan tanganmu, jangan ngupil terus”Luna, memukul tangan Gasi yang terus saja mengupil tanpa henti. Dikejauhan, Maryam memperhatikan Luna dan Gasi. Maryam, kembali lagi mengurungkan niatnya menghampiri Gasi. “Aku ingin sekolah…”ucap Gasi datar. “Walaupun sebenarnya seperti tidak mungkin, tapi dalam hatiku aku ingin sekali sekolah” Luna membenarkan duduknya, kali ini ia benar-benar duduk disamping Gasi. Tak ada lagi ketakutannya kalau pakaiannya akan kotor. Tangannya memegang tangan Gasi. Seperti orang bodoh, khas anak kampong. Tak ada reaksi apa-apa dari Gasi. “Kau ingin pintar juga Gas? Aku senang mendengarnya, kamu masih ada niat untuk sekolah, jarang loh ada yang masih punya niatan untuk sekolah. Anak menteri yang punya banyak duit saja, kadang masih males buat sekolah”Luna tersenyum sumringah. “Aku hanya ingin banyak tahu, aku tak mau terlalu pintar. Kamu lihat petinggi kita, mereka semua pintar, hingga terlalu pintarnya mereka sampai mereka bisa memintari orang lain, lebih baik banyak tahu daripada jadi lebih pintar”Gasi, berdiri tegak. Ia melangkah mendekati tonggak tiang benderanya. “Kau mau apa Gas?”Luna, hanya terpelongok diam, ia bingung dengan apa yang akan dilakukan Gasi. “Sudah sore”hanya itu kata Gasi. Gasi merapatkan kakinya, dadanya ia busungkan kedepan ia taruh tangannya di kening, melakukan hormat pada sang merah putih. Gasi turunkan tangannya. Lalu ia turunkan lagi bendera itu, ia lepas ujung-ujung tali pengikatnya. “Aku sering melihatmu, tapi aku baru kali ini melihatmu begitu mencintai. Cinta kau yang benar-benar tulus. Disekolahku setiap hari bendera itu tak pernah turun, bahkan hampir tiga tahun aku bersekolah bendera itu terus berada diatas. Sampai kumal, warnanya juga jadi buram” Luna membantu Gasi, melepas ikatan bendera. Menaruh kayu ditempatnya semula untuk besok kembali membantu mengibarkan sang saka. Awan mulai beranjak hitam, matahari perlahan-lahan mundur. Kelam, gelap tak lama lagi menyelimut dan malampun akan datang. Suara kokok ayam akan berganti dengan srigala malam. Dengan rapi para teman-teman pumulung juga turut pulang, walaupun masih ada beberapa yang tetap melakukan perkerjaan mereka mengais sampah. Adzan mahgrib mulai berkumandang. “Sudah sore, pulanglah kamu besok mau sekolah. Nanti orang tuamu mencarimu, sampai besok orang kaya”Gasi, mengacak-acak rambut Luna. Luna hanya tersenyum. “Oke…aku pulang, sampai besok yah. Salam buat Konto dan Maryam”ucap Luna sambil membenarkan rambutnya, lalu tiba-tiba. “Aaahhh…..Gasi…UPIL…!!!”teriak Luna, sambil mengejar-ngejar Gasi. Gasi berjalan tanpa arah. Ia berjalan menyusuri jalan setapak, dengan tujuan hanya untuk melepas kepenatannya. Ia lewati sebuah gedung sekolah dengan gerbang besar didepannya. Sesaat kemudian ia beberapa langkah kembali mundur, kembali. menatapi sekolah itu. “Sekolah Luna?”desisnya. Gasi lalu mendekat. Kepalanya celingak-celinguk, pelan-pelan seperti maling ia masuk kedalam gerbang sekolah. Dari balik tembok sekolah ia dapat melihat sejumlah siswa sekolahan sedang melakukan Upacara bendera. Semuanya berpakaian rapi putih abu-abu. Semuanya berdiri dengan tegap. Sebentar lagi bendera akan naik dan berkibar perkasa, dengan iringan lagu Indonesia Raya. Gasi tak mau ketinggalan ia juga berdiri tegap, tangannya sudah dikening kanan. Khidmat mengikuti lirik lagu dan gerakan pelan bendera. Tiba-tiba Gasi, menurunkan hormatnya. Matanya tertuju pada satu arah, ke seorang anak yang sedang berdiri letoy, tak melakukan hormat pada bendera dan terlihat malas melakukan upacara. Gasi, berlari menghampiri anak itu. Tepat ia berdiri didepannya. Diangkatnya oleh Gasi, kerah baju anak itu. “Kenapa kau tak hormat hah’…..? kau tak tau bagaimana Teuku Umar, Cut Nyak Dien, Patimura, Jendral Soedirman bahkan Naga Bonar dari medan, memperjuangkan Indonesia? Dan sekarang sudah merdeka kau tak mau hormat pada benderamu untuk menghargai perjuangan mereka. Sudah mati ditangan Nipon bapakmu kalau tak ada pahlawan itu…..tau kau…?”semua mata menatap Gasi, guru-guru bingung melihatnya. Dibarisan lain Luna berjinjin-jinjit ingin mengetahui siapa yang membuat onar. Gasi lalu berbalik ingin kembali ketempatnya. Tapi ia mengurungkan niatnya. “Sekarang kau hormat PKI…………….”teriak Gasi menggema. Orang-orang yang tadi menatapnya langsung kembali berdiri tegak, ketakutan. Anak itu hanya diam ketakutan. “Gasi…..”Luna tercekat kaget. “Kau seharusnya mati dimakan rayap, kau seharusnya hidup di Timor Leste, orang Papua dan Tionghoa saja menghormati bendera kita, kau sampah bajingan….”tunjuk Gasi, sambil terus mengerahkan sumpah serapahnya. Luna yang tahu itu Gasi, langsung berlari menarik Gasi, untuk lekas pulang. “Gasi…hentikan….lekas pulang”seret Luna pada Gasi. Gasi yang sudah diseret Luna masih saja, mengeluarkan makiannya. “Kau tak jauh beda dengan orang-orang tolol, kau bodoh, seharusnya kau ada di bantar gebang bersama sampah lainnya”teriak Gasi, tak berhenti. “Kau lebih mirip anak pelacur yang tak terdidik, Bajingan….”
Matahari siang sangat terik. Gasi dan Luna, menyusuri jalan Teuku Umar. Mereka berdua berjalan berbarengan. Kadang Luna tertinggal beberapa langkah dari Gasi. “Gasi…kamu bikin malu aku tadi…..kau terlihat begitu emosional, sampai kau pukul bibirku. Sakit tau”Ucap Luna, sambil meraba bibirnya. “Maaf kawan, aku tak suka saja tadi melihat orang terpelajar tapi tak menghargai bangsanya, bibirmu tak apa-apakan?”Gasi, memegang ujung bibir Luna. Keduanya lalu tertegun, mata mereka beradu. “Gass…Gas….”lirih Luna. Gasi, buru-buru melepas tangannya. Luna dan Gasi jadi salah tingkah. Keduanya jadi terlihat canggung. “Kau lihat bendera itu Luna”Gasi, menunjuk bendera Negara Pakistan yang terlihat bersih. Mereka sangat menjaga bendera Negara orang. “Lihat juga bendera Kuwait, Iraq, bendera-bendera itu bisa berkibar dengan baik. Sangat dihormati oleh orang-orang mereka, tapi kenapa kita tak bisa?” “Kau lihat juga orang-orang bermata sipit dan kulit putih itu, walaupun mereka jauh di Indonesia, tapi mereka masih ingat dengan Negara asal-usul mereka”Gasi, menunjuk beberapa gadis tionghoa yang sedang hormat pada bendera Republik Cina. “Ohh…aku mengerti, kamu ingin agar bendera kita juga dicintai oleh masyarakat kita sendiri juga, kan?” “Seperti itulah, dan semoga saja bisa terjadi”Gasi dan Luna, kembali berjalan menyusuri jalan yang sedikit lengang. “Aku, berharap orang-orang kita juga menghargai semua hak milik kita”
Maryam dan Konto berjalan pelan beriringan. “Kau tahu Maryam?” “Enggak”jawab Maryam. “Kau tahu Maryam?”lanjut Konto lagi. “Aku tak tahu Konto….jangan paksa aku untuk tahu apa yang tak kutahu”Jawab Maryam lagi, kali ini menirukan bataknya Konto dan agak emosi. Konto menghentikan langkahnya. “Baaahhh….Maryam…Maryam, aku belum bilang masalahnya kau sudah bilang tidak…tidak saja, jelas saja kau tak tahu Maryam, bengak juga kau”Konto lebih emosi. Maryam lalu hanya cengar-cengir, “Oh…benar juga kau”ia tersenyum hingga ia benar-benar terlihat seperti orang bodoh. “Kamu benar juga Kon, kukira kamu bodoh”Maryam lalu tertawa lagi. Konto yang mendengarnya hanya mengernyitkan keningnya bingung. “Baaahh………..sebenarnya siapa yang bengak? Aku atau Maryam?...”desis Konto, bingung.
Seperti pagi biasanya Konto menghampiri Gasi, untuk bersama-sama pergi memulung sampah. Tapi, kali ini Maryam juga turut serta. Biasanya Maryam, berangkat duluan, tapi kali ini ia ingin membuktikans sesuatu. Di kejauhan terlihat Gasi, seperti biasanya melakukan kebiasaannya setiap pagi. Gasi memasang benderanya, melakukan hormat dengan tegap dan dengan lantang mulai menyanyikan lagu Indonesia Raya. “Kau lihatkan? Itulah yang dia kerjakan setiap harinya, bisa gila kau melihatnya”tunjuk Konto pada Gasi. “Apakah itu Tuhan barunya? Tapi dia terlihat gagah sekali, tak seperti kau, batak letoy”sindir Maryam mengena. Gasi menurunkan tangannya. Maryam dan Konto masih memperhatikan Gasi. Kemudian Maryam menghampiri Gasi. Maryam melakukan hormat ke bendera. “Merdeka…”teriak Maryam. “Merdeka….Indonesia”teriak Gasi, lebih lantang. Konto menghampiri Gasi dan Maryam. “Kalian berdua sudah sama-sama gila”ucap Konto, sedikit sinis. “Merdekalah juga pokoknya” Keduanya lalu berangkat bersama-sama mencari barang-barang bekas, kaleng dan plastik. Gasi terus memperhatikan Maryam, yang sedari tadi terlihat melamun. Tak ada konsentrasi dipekerjaannya. Kadang ia malah hilang keseimbangan. Gasi lalu menghampiri Maryam. “Kamu kenapa Yam?”Gasi, merangkul Maryam. “Aku tak apa-apa Gas”ucap Maryam, sambil berusaha melepaskan diri dari Gasi. “Yasudalah…kita duduk dulu, sepertinya kau sedang ada sesuatu” Gasi dan Maryam duduk diatas tumpukan-tumpukan sampah. Gasi memberikan Maryam handuk kumalnya pada Maryam. “Emak sakit, Gas!”ucap Maryam datar, mengawali pembicaraan. Gasi terlihat kaget. “Emak Wirnah sakit? Kau serius? Kenapa kau tak cerita padaku? Kenapa kau tak bilang dari dulu? Sejak kapan Emak sakit? Saki apa Emak?” cerocos Gasi, panjang. Maryam yang mendengarnya, hanya diam terpaku. “Seharusnya kau memberi tahuku, aku temanmu. Lama kita sudah berteman, kalau Emak-mu mati, aku juga merasa kehilangan, Emak-mu sudah aku anggap Emakku juga”Sambung Gasi, lagi tanpa henti. Tak memberikan kesempatan pada Maryam, yang sedari tadi ingin mengucapkan sesuatu. “Capek”desah Gasi. “Akhirnya kamu selesai juga, sekarang giliranku, mulutmu dari pertama bertemu sampai sekarang sama saja Gas” “Kenapa?” “Bawel dan bau”
Maryam terlihat, berlari-lari menuju Gasi yang sedang duduk diatas gunungan sampah bersama Luna. “Gasi……Gas….Gasiiii……”Maryam, sudah berteriak sedari jauh. Tapi lambat laun mulai pelan. “Gasiii…..Gassss………”suara Maryam terpotong. Maryam menghentikan larinya, sejenak ia terpaku dan pelan-pelan ia melangkah mundur. “Gass…Emak…sekarat……………………”desis Maryam. Lalu berbalik dan berlari kembali.
“Ibu Maryam sakit? Maryam yang sering kau ceritakan itukan? Maryam sahabatmu?”Tanya Luna, sedikti terkejut mendengar cerita Gasi, kalau ibu maryam sakit. ‘Iyah..”jawab Gasi. “Kesalnya aku, Maryam baru cerita tadi pagi, sedangkan Emaknya sudah sakit parah dari jauh hari yang lalu”cerita Gasi, dongkol. “Aku harus membantunya, mungkin dengan menjual benderaku satu-satunya” lanjut Gasi lagi. Tak lama Konto datang. Susah payah ia menaiki gunungan sampah. “Ada apa kau kawan?” “Besok aku akan, konser musik Gas!”ucap Konto, kegirangan, tak henti-hentinya ia berjoget-joget “Bagus itu, akhirnya selama berabad-abad kau bisa naik panggung juga” “Tapi aku butuh uang Gas……pinjamkanlah aku uang, ini sangat penting Gas. Karena akan ada produser terkenal yang akan nonton. Kau punyakan Gas?”wajah Gasi, sontak berubah. “Kau, Kon. Tak pernah kau lihat kalau mau makan saja aku pas-pasan, bagaimana aku ingin punya uang”Gasi, mencoba menolak pinjaman Konto dengan halus. “Iya..juga yah….aaahh…..tapi kau punya bendera itu Gas”tunjuk Konto, pada bendera merah putih yang masih berkibar dengan indah dipuncaknya. “Dulu kau bilang, itu bendera bersejarah karena pernah dinaikkan pada saat Habibie presiden dulu, naahh…pastilah itu akan mahal jika kau jual”Konto, tersenyum penuh kemenangan. “Kutunggu besok Gas……”Konto menepuk bahu Gasi, dan langsung terjun pulang dan terus berteriak kegirangan. Gasi duduk kebingungan. Ia bingung, apakah ia benar-benar harus menjual benderanya. Dan itu berarti ia akan juga mengikuti petinggi-petinggi bodoh, dengan menjual sesuatu yang berharga milik Negara. “Kamu kenapa Gas?”Luna merangkul Gasi, yang terduduk lesu. “Apa aku harus menjual sang saka-ku, merah putih kebanggaan negaraku? Aku tak mau melakukan kesalahan seperti pemimpin kita, menjual banyak harta yang berharga dinegara ini, apa aku harus menjual harga diri bangsaku? Tapi bagaimana kedua sahabatku”Gasi, lalu berdiri. Ia berjalan tertunduk menuju bendera yang masih tertancap di kayu penyangganya. Ia turunkan bendera suci itu. Ia peluk dengan dalam, air matanya hamper menetes membasahi bendera. “Aku boleh menangis, tapi kau jangan menangis indoensia-ku, mimpiku memang ingin kau selalu berkibar tinggi dengan kondisimu yang selalu bersih, berkibar dengan angkuh menunjukan kalau kau harga diri bangsaku. Mungkin bukan hanya mimpiku, tapi juga mimpi semua orang dan seluruh Indonesia. Kau cinta terdalam bangsaku, tak sekedar lambang, maafkan aku, aku juga tolol seperti pemimpinmu”Gasi terus memeluk benderanya, dan terus berjalan pulang. Tak ia perhatikan Luna yang juga menitikkan air mata mendengarnya.
Pagi tiba Hari esok yang tak ingin dinanti Gasi akhirnya tiba juga. Ia genggam benderanya yang telah terlipat rapi. Ia kibarkan, lakukan seperti pagi biasanya, melakukan hormat menyanyikan Indoensia Raya. Tapi kali ini ia turunkan lagi. Gasi akan menuju ke pasar loak. Luna mencari-cari Gasi. Ditempat ia biasa mencari barang bekas. Tapi sayang ia tak menemukannya. Luna lalu bertanya pada Maryam. “Kau Maryam?” Maryam mengangguk. “Aku Luna, apakah kau lihat Gasi? Kemana dia aku tak melihatnya pagi ini”Tanya Luna. “Aku juga tak melihatnya kawan, aku juga bahkan tak melihat benderanya berkibar di kayu sana” tunjuk Maryam, pada setonggak kayu tanpa bendera Gasi. “Gawat, dia pasti menjual benderanya”Luna memegang kepalanya bingung. “Apaa…..kenapa ia menjual benderanya?”Maryam menarik lengan Luna. “Ceritanya panjang, dia ingin menolong Emak-mu dan juga memberikan pinjaman pada Konto agar ia bisa manggung di pentas musik Rock, lekas kita cari dia. Aku cari kepasar kau cari ketempat lainnya”Perintah Luna, lalu ia bergegas pergi.
Senja mulai beranjak sore. Maryam sudah letih mencari dan tak menemukan apa-apa. Ia duduk disamping Konto, dan terus memaki-maki Konto. “Coba kau tak memaksa Gasi, untuk menjual benderanya, seharusnya kau tahu bendera itu sangat berharga buat dia. Dia bahkan rela mati dari pada kehilangan bendera itu, kau seharusnya bangga pada benderamu, bukan berpikir untuk menjualnya”Maryam, terus memaki-maki Konto. Konto, sendiri hanya diam tak berkata apa-apa. Tak lama kemudian. Gasi datang. “Konto, Maryam” panggil Gasi pada kedua temannya. Sontak Maryam dan Konto, memeluk Gasi. “Ini uang buat kau main band, dan ini obat buat Emak…..”Gasi menyerahkan sejumlah uang pada Konto dan sebungkus obat-obatan pada Maryam. “Tapi…Gas…kenapa kau harus menjual benderamu? Aku tak sudi menerimanya jika kau harus menjual benderamu, dan itu kau mengingkari untuk tak menjual harga diri bangsa kita. Kau berubah jadi pembohong Gas”Maryam, meluapkan amarahnya pada Gasi, ia tarik-tarik baju Gasi. Gasi hanya bisa tertunduk. “Maafkan aku juga Gas….ini salahku”susul Konto, merasa bersalah. “Sudahlah kawan…aku tulus, mungkin memang kita sudah ditakdirkan untuk menjual semua harga diri bangsa kita, mungkin kita sudah ditakdirkan untuk menjual semua milik bangsa kita, aku rela, bahkan aku sedikit lega karena aku tidak ada dideretan orang-orang pintar yang mengerjakan perbuatan tolol ini, karena aku sendiri tolol, untunglah aku ditakdirkan menjadi orang tolol yang tidak suka menololkan orang lain”Gasi, merangkul kedua temannya. “Kau memang tolol, Gas. Bahkan kukira lebih tolol dari pemimpin bangsa dimanapun”Luna mengikat bendera milik Gasi pada tonggak kayu yang tak simetris, dan menancapkannya lagi di atas tumpukan sampah. “Tapi, menjadi orang tolol lebih baik. Karena orang tolol seperti kau lebih mencintai negaramu dibanding orang pintar diatasmu”Luna menarik Gasi, Maryam dan Konto kebawah bendera. Lama Gasi memandang Luna, tatapannya penuh takjub. Dengan anak orang kaya yang mau bergabung dernga orang kotor, bau dan kampungan. Tangan kirinya terus saja mengupil. Plllaaaaaaaakkkk……….”Konto, memukul kepala Gasi. “Kami sudah siap jenderal”Teriak Konto, sambil membenarkan posisi siapnya.
“HORMAT………………GRAAAAKKKKKK…….”teriak Gasi, lantang. Sontak badan keduanya langsung berdiri tegap, dada membusung kedepan, penuh harapan Indonesia yang lebih baik. Penuh mimpi yang lebih indah, untuk Gasi, temannya, semua orang, dan bangsa Indonesia. Plllaaaaakkk”Luna memukul tangan Gasi yang terus mengupil. Dari mulut keempatnya, berbarengan menyanyikan dengan semangat dan lantang. Lagu INDONESIA RAYA.
“Indonesia tanah airku tanah tumpah darahku disanalah aku berdiri………………. Indoensia raya…merdeka….merdeka….hiduplah INDONESIA RAYA……………” THE END
Kutulis AS MY LOVE TO MY COUNTRY
dear god...!!!
hari ini sabtu 7 juni 08 seperti biasa...saya sehat karena tuhan, berikan kesehatan... hari ini cukup capek karena kembali harus bangun pagi dan berangkat setengah tujuh karena ada kuliah penyutradaraan jem 8...barengan Bang Sam,,,
setelah itu bimbingan skenario yang akan di produksi tanggal 28-29 juni 2008 nanti dengan assisten dosen..lalu berangkat ke bintaro ke kandangnya teater koma, untuk mencari talent untuk film Papa Hau. sayang orang yang di cari gak ada. lalu saya pun pulang ke rumah nun jauh disana..pantat sampe panas karena pulang pake motor...bayangin aja dari kampus di cikini, terus naek motor ke Bintaro dan balik kerumah ke Cileungsi...amboy....nonstop pula...lagi.. pantat merah euy, kayak pantat monyet.
pulang rumah langsung ngaso dah....
capek hari ini,,,untuk besok libur dari segala aktifitas...jadi bisa tidur sepuasnya...
udah dulu yah...god..
ketemu di cerita selanjutnya....
dear god...!!!
jumat kemarin 6-juni-2008 adalah hari yang bener-bener sibuk dan paling membetekan....dibanding hari-hari yang laen...gimana enggak malemnya saya harus pulang malem nyampe rumah udah jem setengah 12 malem..karena malem itu harus rapat dulu dengan Pamela produser film...Papa Hau yang di mana saya kebagian job sebagai assisten produser. mana besoknya harus berankat pagi ..jem setengah 8 , karena ada kuliah artistik, jem 10-nya...itu di perparah lagi dengan tugas artistiknya belum selesai.... jadinya sejam sebelum kuliah harus buru-buru...nyelesainnya.. untuk akhirnya selesai juga...tapi gobloknya lupa ngumpulinnya....padahal terakhir, jadi mudah-mudahan minggi depan masih diterima...
terus hari jumat itu juga....adalah hari presentasi saya untuk kuliah sejarah film dunia, dengan tema bahasan authur cinema ...tapi apesnya semua bahan persentasi itu di bawa oleh temen saya yang namanya Titit ke Surabaya,,dia harus pulang karena ibunya sakit keras...jadinya saya bel-belain gak sholat jumat(maaf yahh...gak terulangi lain kali) untuk ngerjain tugasnya itu...dan itupun di bantu oleh Tante yang bantuin terjemahin bahasa inggri ke indonesia...karena begitu dungunya saya dalam bahasa inggris... paper sebanyak 2 halaman pun selesai,dan saya mulai persentasi....tapi karena gak belajar...dan gak mendalami materinya.saya di permalukan di kelas dengan pertanyaan-pertanyaan oleh teman-teman yang membuat saya bingung...hingga keluar jawaban yang asli palbis..dan ngarang abiiiss.....dosen saya yang besar itu cuma senyum dan angguk-angguk saja ketika saya, mulai mengarang bebas dalam menjawab....pertanyaan teman-teman...yang gak punya rasa belas kasihan dengan saya...akhirnya malu sudah...
eh....selesai dulu yah....
tar sambung lagi dengan cerita yang laen...
thanks god
.....setelah...cukup malas untuk menulis hal-hal yang berat, dan memuakkan. Gw jadi punya ide untuk meluncurkan sebuah judul tulisan gw yang menceritakan kehidupan sehari-hari.. judulnya pada Tags gw akan kasih nama :SURAT UNTUK TUHAN...kenapa dikasih nama SURAT UNTUK TUHAN...habis,,selama ini gw selalu bercerita dengan teman,saudara,mantan,keluarga...atau selalu menulis cerita untuk semua orang yang menyukai cerpen-cerpen gw...tapi gw belum pernanh bercerita untuk tuhan...so' makhirnay di kasihlah...nama cerita keseharian gw SURAT UNTUK TUHAN bisa kalian lihat dan komentar mulai malam ini...7juni08....
selamat membaca yah...
pas tanggal 20 mei yang lalu gw menyambangi ....Stadion gelora bung karno...untuk datang melihat pertunjukan 100tahun kebangkitan indonesia.....  disana gw sekalian ngeliput dan ambil stock shot kali aja, kepake buat film-film gw... gw sempat nanya-nanya...dengan beberapa anak SMA yang jadi pengisi acara. begini pertanyaan gw.  pertama-tama gw nanya ke anak-anak SMA yang ngisi jadi penari SAMAN, yang gw tanya namanya luap gw, tapi gw inget dia dari Al-Azhar BSD, gw tanya ama m ereka...."Hari kebangkitan nasional itu, pertama kalinya di awali karena ada peristiwa apa sih? ada gerakan apa?" gw tanya kayak git,,,karena mau ngetes...aja... mereka langsung bingung dan nyengar-nyengir gak jelas..."apa yaahh....sumpah pemuda kayaknya...." jejejejejejejeengg....... lalu gw berjalan lagi....dan bertemu dengan sekelompok gadis-gadis dari SMA Muhammadiyah 3 Limau, Jakarta. dan gw tanya  dengan pertanyaan yang sama... mereka hanya cengar-cengir,,,terus dengan polos bilang..."apa yaaahh...?'' lucu kan mereka.....padahal udah SMA lohh.....
jumat lalu tanggal 29 Mei 2008, tepat di hari ulang tahun Meita Rachmawati (seorang teman di sman 3 setiabudi, tapi gak da hubungannya dengan cerita gw sekarang). gw masuk kelas Sejarah Film Dunia, setelah minggu lalu gw gak masuk, karena mau cabut ke Dieng.
Kelas ini seharusnya di isi oleh Mas Dony, dosen terbesar yang dimiliki IKJ saat ini. tapi karena doi mau lunch dulu (katanya waktu gw ke departemen film) "Sorry Cel....gue lunch dulu neeehh..."gitulah kata-kata dia waktu gw menyambangi ruangannya.
dan akhirnya, kelas pun diisi oleh Steven, asdosnya yang "Slengean" karena kadang-kadang die ngeselin ngajarnya. Tapi, hari ini dia asyik.....gue ampe, diem aje dengerinnya yang engabcot kayak dongeng. awalnya dia ngebacot bukan masalah pelajaran/kuliah. Tapi dia ngobrol ngalur ngidul dulu...
"Gila...makin diki aja neh kelas ini..."katanya....pada gue dan anak-anak sekelas. maklum yang masuk gak nyampe sepuluh orang, dari total mahasiswa yang 35orang, belum di tambah yang ngulang.
"Loe, sebenernya mau jadi filmmaker apa crew sih?" gue dan anak-anak pun jawab.... "jadi filmmaker lah..." "nah....filmmaker tuh penting tahu sejarah....."kata steven....
dan diapun mulai mendongeng.......bla..bla...bla...tentang Nuwave perancis, dan Nuwave indonesia yang di gerakkan oleh Nan T Achnas, Mira Lesmana, Rizal Mantovani, Riri Riza....
bukan salahku jika aku arogan bukan salahku jika aku egois bukan salahku jika aku pembangkang bukan salahku jika aku melawan bukan salahku juga jika aku sering berang,,teriak,,memaki,,mencaci
semua karena kalian,,,kalian yang mengajarkan.....
aku coba untuk bicara kalian suruh aku diam aku coba untuk setia pada kalian kalian pergi dan tinggalkan aku coba tuk mengabdi pada kalian aku dicampakkan
dan kini semua begitu menyebalkan.... mereka bilang aku mengesalkan,, menantang,, melawan,, arogan semuanya tak tertahankan......
sekarang aku menang aku berhasil menjadi seperti yang kalian inginkan... aku berhasil menjadi seperti yang harapkan semakin tercampakkan......
sekarang aku akan diam tak akan banyak berbicara tak ada kritik yang di tulis selain kisah sehari-hari yang bagiku manis..... aku telah menang,,,karena menjadi menyebalkan seperti yang kalian harapkan dan lagi aku akan diam diam..... diam..... diam..... begitu hingga aku merasakan lelah dan mulai menampakkan wajah,,seperti yang kalian inginkan... atau akan menjadi seperti yang aku harapkan... menjadi seperti yang aku beberapa tahun kebelakang.....
Kemunculan ML yang kembali di penuhi kontroversi lalu muncul banyak hinaan dan hujatan kembali....membuat kita harus sadar. Bahwa betapa pentingnya kritik itu untuk film indonesia. INGAT KRITIK BUKAN HUJAT atau MAKIAN DAN HINAAN.
Kritik dan pengamat film indonesia bukan lagi perkerjaan Eric Sasono, Arya Gunawan atau teman-teman wartawan (yang kadang masih banyak yg salah). tapi juga harus di mulai dari teman-teman Pelajar, Mahasiswa, Bahkan Mahasiswa Film Sendiri. khusus mahasiswa film tentulah akan ada harapan lebih besar akan muncul kritik yang lebih baik, lebih bermanfaat, apa yang di bicarakan ia tahu pertanggung jawabannya ia tahu sejarahnya, tahu letaknya dan semuanya. Lewat bekal ilmu pengetahuan ia akan film yang lebih di banding orang-orang lainnya.
kita lihat...saja...apakah akan muncul kritikus muda dan baru ..dengan suasana tulisan yang lebih segar dan baru.....dengan alur kata yang sejuk dan berjalan searah , berdampingan dengan filmmaker dan penonton. Sehingga kritik itu sehat di dengar dan di baca.
....... semalem abis ngobrol-ngobrol dengan pak yadi sugandi di facebook..... gw sempat mikir. kalo gw jadi filmmaker kayak dia. entar anak gw kayak apa yah? bakal jadi apa dia? apa bakal nurunin kayak bapaknya? atau kayak ibunya yang seorang pendiam tapi manis (karena gw mau istri kayak begito) apa bakal kayak gw yg suka ngritik? atau bakal jadi kayak gw yg selalu melamun dan cengengesan?
yang pasti gw gak mau anak gw jadi tukang kritik karena tukang kritik itu biasanya mati sia-sia.... kalo kagak mati di bunuh.... mati gak di hormati....
gw gak mau anak gw jadi kayak gw, chairil atau munir....... jangan jadi toekang kritik....
di buku laskar pelangi dan sang pemimpi....aling sebagai gadis pujaan Ikal alias Andrea selalu disebut-sebut sampe elo pada penasaran...kemana neeehhh cewek cina....
nah di film laskar pelangi...aling akan muncul.....makanya. buku Maryamah Karpov terpaksa di tunda peluncurannya karena ada cerita di Maryamah yang tentang Aling akan di ceritakan di filmnya....
nah kalo penasaran dengan aling dan kemana aling......tungguin bukunya september nanti...ato gak tunggu aja filmnya liris....hahahahaaa.....
bang ali sadikin.....salah satu tokoh yang suka membangkang pada soeharto tapi ia tidak mati....dan ia tidak takut.... mungkin tidak banyak orang yang mengenal dia...apalagi yang berada di luar jakarta...ia begitu kontroversial memang...apalagi saat ia ingin jakarta seperti hongkong....ada tempat perjudian dan prostitusi.....kelas atas....karena itu semua devisa dan menghasilkan uang untuk negara..
.......ia juga bapak yang mendirikan dari Taman Ismail Marzuki dan LPKJ dan sekarang menjadi IKJ....ia telah meninggal di rumah sakit di singapura....!!!!
ia orang yang ada di depan saat anak IKJ ada masalah dengan orang luar....begitu juga saat di serang militer...... Ia ada di tengah-tengah saat anak IKJ bertikai dengan dekan dan rektorat... ia ada terus mendampingi dari belakang saat semua mahasiswa dan keluarga besar hidup tenang dengan berbagai karya seni. ia seperti keluarga,,,,, ia ayah....kami.
seluruh mahasiswa ikj pagi tadi melakukan long march ke kediaman rumah beliau.....!!! rasa hormat kami tak akan hilang atas beliau..... selamat jalan BANG ALI.
shooting film Laskar Pelangi akan di mulai tanggal 25 mei 2008 mendatang...setelah kru melakukan tes kamera pada 7 mei kemarin..... film ini akan bertabung beberapa pemain yang emang sekarang lagi beken...sebut aja Tora Sudiro, Lukman Sardi, Cut Mini, Robby Tumewu, Rieke diah pitaloka,Slamet Raharjo, Alex Komang, Mathias Muchus ...dan masih ada lagi bocah-bocah asli belitung yang akan bermain sebagai anggota laskar pelangi kecil....12 DARI SEPULUH ANGGOTA LASKAR PELANGI CILIK ADALAH WARGA ATAU BOCAH-BOCAH ASLI BELITONG....
Lukman Sardi ,,,akan menjadi tokoh penting di film ini,, Ia akan memerankan IKAL dewasa...alias Andrea Hirata sendiri..memang sangat pas di lihat dari berbagai aspek...dari komersiallitas dan kemiripan dan aktingnya....lukman sardi memang pantas memerankan IKAL.
yang agak janggal....adalah peran cut mini yang menjadi bu guru......terasa kurang pas saja.
sejak kecil sampai sekarang...begitu banyak nama panggilan yang tersemat di diri gw....dari SD,SMP,SMK, sampe sekarang berdiri tegak sebagai Mahasiswa dan pekerja Freelance.
1. Ipep (ini adalah panggilan akrab gw di kalangan keluarga dekat saja) 2. Ipong (teman-teman SD semasa kecil gw di Muara Enim, Sumatera Selatan) 3. Febry (Panggilan semua orang yang tahu nama asli gw) 4. Botak (Panggilan teman-teman SD kelas 6 dan SMP, karena gw pernah botakin rambut) 5. Gokong (Karena teman SMP bilang gw mirip sungokong) 6. Kera (Dulu waktu SMP gw katanya banyak bulu tipis di rahang mereka bilang mirip kera) 7. Cadel (di waktu SMK, dipanggil ini karena gw emang gak bisa bilang R) 8. Otong (dipanggil ini karena barengan temen-temen kita pernah diriin the otong's production, dan selalu membuat film-film pendek, barengan) 9. Lembang (mereka panggil ini karena gw orang palembang) 10. Pempek (mereka sering manggil gini karena gw emang doyan banget ama pempek) 11. Bengek (di panggil pas masuk IKJ karena, gw sempek asma waktu Mata Seni, habis gw di suruh lari jauh banget, subuh-subu pula, mana malemnya gak tidur) 12. Marcel..(ini nama yang paling keren yang dikasih orang, dikasih sama seorang dokter cewek yang lagi piriksa narkoba di kampus, dan nama Marcel ini sekarang tersemat di belakang nama asli gw, nama ini juga yang belakangan jadi nama jualan karya-karya design or film gw)
begitu banyak nama yang gw dapet dari orang-orang terdekat........tapi gw gak akan melepas nama asli pemberian orang tua gw. ada yang mau kasih nama baru?
....
pad asebuah festival film....gw sempat bertanya pada 2 orang filmmaker... "mas- belajar filmnya dimana? karena film mas saya suka, keren juga" begitulah kira-kira gw inget...... mereka pun menjawab dengan senang hati....tapi sayang ada beberapa orang yang menganggap gw meledek mereka...mereka menganggap gw sedikit melecehkan mereka...karena gw kuliah film. padahal enggak,,karena sebenarnya di setelah pertanyaan tadi gw mau melanjutkan omongan gw. tapi keburu di potong oleh pembicara(moderator).....
karena pad aintinya pertanyaan gw itu, ingin mereka yang sudah tahu sudah bisa cara membuat film,, kasih tau orang-orang yang did ekat mereka, orang-orang yang di sekitar mereka, bagaimana membuat film...karena enggak semua orang bisa berkesempatan bisa sekolah fim....atau belajar film secara formal...
..................selama ini sih emang gw arogan, sedikit culas, dan sangat egois......tapi gw selalu belajar untuk tidak terbang melayang
| |